Wilayah yang paling terdampak
Panas ekstrem ini paling terasa di Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua. Namun, beberapa wilayah Sumatra dan Sulawesi juga ikut mencatat suhu tinggi. Di Pulau Jawa, sejumlah kota seperti Jakarta, Bandung, dan Bogor sempat mencatat suhu mendekati 35–36 derajat Celsius. Di wilayah Nusa Tenggara bahkan lebih ekstrem lagi, tembus hingga 37,6 derajat Celsius.
Tips biar tetap aman di tengah cuaca panas ekstrem
Walau gak bisa langsung mengubah cuacanya, kamu tetap bisa ngurangin dampaknya. Nih, beberapa langkah simpel yang disarankan BMKG dan tenaga medis:
- Minum air putih lebih sering – jangan nunggu haus dulu, tubuh tetap butuh cairan meskipun kamu gak banyak gerak.
- Gunakan pakaian yang nyaman dan longgar – pilih bahan katun atau linen biar gak gampang gerah.
- Batasi aktivitas di luar ruangan pada jam 11.00–15.00, saat suhu paling tinggi.
- Gunakan tabir surya (sunscreen) kalau harus keluar rumah, biar kulit gak terbakar sinar matahari langsung.
- Perhatikan orang-orang rentan seperti anak kecil, lansia, dan hewan peliharaan yang lebih sensitif terhadap panas.
Kapan cuaca panas ini bakal berakhir?
Kabar baiknya, BMKG memperkirakan bahwa cuaca panas mulai mereda di akhir Oktober hingga awal November 2025. Saat itu, sebagian besar wilayah Indonesia mulai masuk musim hujan, dan awan akan lebih sering menutupi matahari. Tapi perlu diingat, peralihan ke musim hujan gak langsung terjadi bersamaan di semua daerah. Ada wilayah yang mulai adem lebih dulu, dan ada juga yang masih harus sabar beberapa minggu lagi.
Apa kata BMKG soal kondisi ke depan?
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan bahwa panas ekstrem ini adalah fenomena musiman yang biasa terjadi menjelang peralihan ke musim hujan. Meski begitu, masyarakat tetap diminta untuk waspada karena kombinasi panas tinggi dan kelembapan rendah bisa bikin kondisi tubuh cepat drop. Dwikorita juga menekankan pentingnya menjaga hidrasi, menggunakan pelindung diri, serta rutin memantau info cuaca resmi dari BMKG.