Pesan Terakhir dan Penantian Keluarga: Harapan yang Tak Pernah Padam
Sebelum tragedi ini terjadi, Ari sempat melakukan percakapan terakhir dengan Ferry melalui sambungan telepon. Dalam percakapan tersebut, Ferry menitipkan pesan kepada Ari untuk menjaga anak-anaknya karena kesibukannya yang padat dan sering melakukan perjalanan ke luar daerah. Pesan ini menjadi bukti betapa Ferry adalah sosok yang sangat menyayangi keluarganya, serta memiliki tanggung jawab yang besar sebagai seorang ayah.
Keluarga Ferry saat ini telah berada di Bekasi, menunggu informasi lebih lanjut dari pihak berwenang. Rumah kediaman Ferry di Bogor tampak sepi, dengan lampu yang masih menyala di siang hari, menggambarkan suasana duka yang mendalam. Warga sekitar pun turut merasakan kesedihan yang sama, sekaligus memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sebagai perwakilan warga RT 06/RW 03, Ari Fakhrizal menyampaikan doa dan harapan agar Ferry Irawan segera ditemukan. “Kami sebagai tetangga dan kerabat dekat terus berdoa. Semoga beliau segera ditemukan dan keluarga diberi ketabahan serta kekuatan,” pungkasnya. Doa dan harapan ini menjadi wujud solidaritas dan kepedulian warga Bogor terhadap sesama, serta sebagai bentuk dukungan moral bagi keluarga korban dalam menghadapi masa-masa sulit ini.
Kilas Balik Tragedi: Pesawat ATR 42-500 dan Misi Pengawasan Laut
Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT yang ditumpangi Ferry Irawan dioperasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) untuk menjalankan misi pengawasan laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pesawat tersebut memiliki rute penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kecelakaan ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan penerbangan, serta risiko yang dihadapi oleh para pekerja di berbagai sektor, termasuk yang bertugas dalam pengawasan sumber daya kelautan.