Perawatan jalan memang ada, namun terkesan seperti tambal sulam yang tak efektif. Muhdom menjelaskan, jalan tersebut kerap ditambal pada pagi hari, namun kerusakan kembali terjadi pada sore harinya. “Kadang saya suka diurug, supaya tidak terlalu besar lubangnya,” ujarnya. Hal ini tentu menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan belum menyentuh akar masalah. Perbaikan yang bersifat sementara hanya akan membuang-buang anggaran dan tenaga. Yang dibutuhkan adalah solusi permanen, seperti pengaspalan atau bahkan pengecoran jalan.
Usulan yang Tak Digubris
Ironisnya, masalah ini seolah tak mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Menurut Muhdom, perbaikan jalan Sikeng-Dago telah sering diusulkan, baik melalui Musrenbang Kecamatan maupun Reses DPRD Kabupaten Bogor. Namun, hingga kini, tak ada tanda-tanda perbaikan. Warga pun terus bertanya-tanya kepada kepala desa, mempertanyakan kapan jalan kabupaten ini akan diperbaiki. Pertanyaan yang wajar, mengingat jalan tersebut adalah tanggung jawab pemerintah daerah, bukan desa.
Apa Artinya Bagi Keselamatan dan Ekonomi Warga?