Kerusakan jalan Sikeng-Dago bukan hanya soal ketidaknyamanan. Lebih dari itu, ini adalah soal keselamatan dan dampak ekonomi. Lubang-lubang di jalan bisa menyebabkan kecelakaan, mulai dari pengendara terjatuh hingga kerusakan kendaraan. Selain itu, kondisi jalan yang buruk juga menghambat mobilitas, memperlambat waktu tempuh, dan pada akhirnya berdampak pada produktivitas warga. Misalnya, pedagang yang harus mengantar barang dagangan, akan kesulitan karena jalan yang rusak akan memperlambat pengiriman. Belum lagi, biaya perbaikan kendaraan yang rusak akibat jalan berlubang, tentu akan memberatkan keuangan warga. Jika jalan diperbaiki, tentu saja akan meningkatkan keselamatan dan mempermudah roda perekonomian warga berjalan lebih baik.
Kapan Janji Itu Akan Terwujud?
Sudah hampir tiga tahun warga harus berjuang menghadapi jalan rusak ini. Janji perbaikan seolah menguap, tenggelam dalam birokrasi yang berbelit. Pertanyaannya, sampai kapan warga harus bersabar? Kapan pemerintah daerah akan mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah ini? Atau, apakah kita akan terus melihat lubang-lubang menganga ini menjadi monumen ketidakpedulian?