EventBogor.com – Gemuruh pasar, riuhnya tawa anak-anak, dan aroma bandeng bakar yang menggoda. Itulah sedikit gambaran tentang Festival Bandeng Rawa Belong, sebuah perhelatan tahunan yang kembali digelar di Jakarta Barat pada 14-15 Februari 2026. Tapi, lebih dari sekadar pasar ikan, festival ini adalah cerminan hidup, sebuah napas panjang tradisi Betawi yang terus berdenyut di tengah modernisasi.
Festival Bandeng tahun ini, yang dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, mengusung tema “Harmoni Tradisi Betawi dan Tionghoa Menuju Jakarta Kota Global dan Berbudaya”. Sebuah tema yang sangat relevan, mengingat Jakarta adalah potret miniatur Indonesia, tempat berbagai suku dan budaya hidup berdampingan.
Menganter Bandeng: Lebih dari Sekadar Bagi-bagi Ikan
Tradisi “menganter bandeng” adalah inti dari festival ini. Bayangkan, saat Imlek tiba, warga Betawi berbagi ikan bandeng kepada keluarga dan tetangga. Bukan hanya soal memberikan makanan, tapi juga mempererat silaturahmi. Ini adalah simbol kebersamaan, kepedulian, dan gotong royong yang menjadi akar budaya Betawi.
Bagi etnis Tionghoa, ikan bandeng punya makna lebih dalam. Dalam bahasa Mandarin, ‘ikan’ (鱼/yú) terdengar sama dengan ‘rezeki’. Memberi bandeng adalah harapan akan kemakmuran dan rezeki yang berlimpah. Di sinilah, perpaduan budaya Betawi dan Tionghoa terlihat begitu indah, saling melengkapi dan memperkaya.
Kenapa Festival Ini Penting Sekarang?
Di tengah gempuran budaya asing dan gaya hidup modern, festival ini adalah oase. Ia mengingatkan kita pada akar, pada nilai-nilai luhur yang membentuk identitas kita. Di saat kita sibuk dengan gawai dan hiruk pikuk kota, festival ini mengajak kita berhenti sejenak, merenung, dan merasakan kehangatan kebersamaan.
Coba bayangkan, betapa indahnya melihat anak-anak kecil bermain di antara lapak-lapak bandeng, mencicipi berbagai hidangan khas Betawi, dan belajar tentang sejarah kotanya. Festival ini adalah media pembelajaran, tempat generasi muda mengenal dan mencintai warisan leluhur.
Apa Artinya Bagi Kantong Anda?
Tentu saja, festival ini juga punya dampak ekonomi. Pedagang bandeng, pengrajin, dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lainnya mendapat berkah dari ramainya pengunjung. Ini adalah momentum untuk menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Lebih jauh, festival ini adalah investasi budaya. Dengan melestarikan tradisi, kita menjaga identitas kita sebagai bangsa. Kita memastikan bahwa nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, gotong royong, dan toleransi tetap hidup dan berkembang.
Festival Bandeng Rawa Belong bukan hanya sekadar acara tahunan. Ia adalah semangat, denyut nadi kehidupan, dan cermin harmoni Jakarta. Mari kita jaga tradisi ini, agar terus mengalir dari generasi ke generasi.