Gubernur Pramono Anung memiliki visi yang jelas terkait MTQ. Beliau ingin acara ini digelar secara berjenjang, dimulai dari tingkat kelurahan hingga provinsi. Ini bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan wadah untuk menggali potensi generasi muda dalam bidang keagamaan. Pelatihan, pembinaan, dan kompetisi yang sehat akan lahir dari kegiatan ini. Dampaknya? Bibit-bibit unggul qori dan qoriah akan bermunculan, membawa harum nama Jakarta di kancah nasional bahkan internasional. Ini juga akan menjadi inspirasi bagi anak-anak dan remaja untuk lebih dekat dengan Al-Quran.
Haul Ulama Betawi: Merawat Warisan, Memperkuat Jati Diri
Selain MTQ, Haul Ulama Betawi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan HUT DKI. Acara ini menjadi penghormatan kepada para ulama Betawi yang telah berjasa dalam penyebaran agama Islam dan pembangunan masyarakat. Pelaksanaannya di Monumen Nasional (Monas) akan menjadi simbol persatuan dan kebersamaan. Ini adalah momen untuk mengenang jasa-jasa para tokoh agama, sekaligus menguatkan kembali identitas dan karakter masyarakat Betawi.