Puluhan titik PJU yang padam, terutama di sepanjang lintasan Jasinga, Cigudeg, Lewisadeng, hingga Leuwiliang, menciptakan situasi yang sangat riskan. Pengendara sepeda motor dan mobil harus ekstra hati-hati. Jarak pandang terbatas. Risiko kecelakaan meningkat drastis. Pejalan kaki, yang seringkali harus berjalan di sisi jalan tanpa penerangan, menjadi pihak yang paling rentan.
Asep, seorang pengendara motor yang sering melintas di jalur tersebut, mengungkapkan keheranannya. “Seharusnya pemerintah cepat tanggap,” ujarnya. Ia merasa heran karena jalan tersebut berstatus nasional, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Aceng, seorang warga yang kerap berjalan kaki di sekitar ruas jalan, menambahkan, “Rakyat sudah bayar pajak. Harapannya, negara hadir, salah satunya dengan perawatan fasilitas umum seperti lampu jalan.” Kata-kata mereka adalah cerminan dari kekhawatiran masyarakat akan keselamatan.
Dampak Nyata Bagi Kita
Dampak langsung dari PJU yang padam bukan hanya soal potensi kecelakaan. Bayangkan seorang pedagang yang harus berjualan di malam hari di area yang gelap. Atau, seorang pekerja yang pulang malam dan harus melewati jalanan yang minim penerangan. Rasa was-was, ketidaknyamanan, bahkan ancaman kejahatan, menjadi bagian dari realita mereka.