EventBogor.com – Ramadan tahun 2026 ini, bukan hanya kue lebaran yang harganya bikin ‘ngilu’. Harga plastik, khususnya jenis HDPE dan PP, melambung tinggi. Kenaikan harga yang terjadi hampir setiap hari ini, bak badai yang menerpa para pedagang dan konsumen. Pemicunya? Konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Harga Plastik: Naik Tiap Hari, Kenapa?
Bayangkan Anda seorang pedagang yang setiap hari berurusan dengan plastik. Mulai dari kantong kresek untuk pelanggan, sampai wadah makanan. Tiba-tiba, harga bahan baku ini meroket. Itulah yang sedang dialami banyak pelaku usaha saat ini. Kenaikan harga yang terjadi bukan hanya sekali, tapi berangsur-angsur, hampir setiap hari. Pedagang sampai harus menghafal harga terbaru saking seringnya berubah.
Kenaikan harga ini bukan isapan jempol. Seorang pedagang di Pasar Palimanan, Cirebon, mengonfirmasi lonjakan harga hingga 40% sejak awal puasa. Plastik jenis HDPE (High-Density Polyethylene), yang sering digunakan untuk kantong kresek kuat dan wadah tahan lama, menjadi salah satu yang paling terdampak. Begitu pula dengan PP (Polypropylene), plastik lentur yang jadi bahan baku kemasan makanan seperti mika dan gelas plastik. Dulu, harga plastik mungkin sekitar Rp25 ribu. Kini, untuk jenis PP saja, harga rata-rata mencapai Rp42 ribu. Artinya, modal bertambah, keuntungan tergerus.
Perang di Timur Tengah: Jauh Tapi Berdampak Nyata
Lalu, apa hubungannya konflik di Timur Tengah dengan harga plastik di Indonesia? Jawabannya terletak pada rantai pasokan. Konflik berkepanjangan kerap mengganggu stabilitas geopolitik, termasuk pasokan minyak mentah. Padahal, plastik dibuat dari bahan baku turunan minyak bumi. Gangguan pada pasokan minyak, entah karena blokade, ketidakpastian, atau bahkan kerusakan infrastruktur, otomatis mendorong kenaikan harga bahan baku plastik.