Bram dari Forum Komunikasi Bumi Putra (FKBP) bahkan menyebut kasus Watni sebagai cerminan nyata ketimpangan sosial. “Yang sering digaungkan peningkatan ekonomi, faktanya belum dirasakan masyarakat kecil,” tegasnya. Pertanyaan besar kemudian muncul: pembangunan untuk siapa? Kesejahteraan siapa yang menjadi prioritas?
Apa Artinya Bagi Kantong Anda? (Dan Juga Hati Anda)
Kasus di Tenjo ini bukan hanya sekadar berita lokal. Ini adalah cermin dari masalah yang lebih besar: kesenjangan sosial yang semakin menganga. Ini mengingatkan kita bahwa pembangunan harus inklusif, merata, dan berpihak pada mereka yang paling membutuhkan. Apa gunanya gemerlap perumahan mewah jika tetangga kita masih kesulitan mencari tempat berteduh yang layak?
Kepala Desa Cilaku, Jumadi, mengklaim telah mengajukan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) untuk warga. Namun, pengajuan saja tidak cukup. Dibutuhkan tindakan nyata, percepatan proses, dan pengawasan yang ketat agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak. Jangan sampai, harapan warga hanya menjadi angan-angan di tengah hiruk pikuk pembangunan.
Lalu, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda peduli dengan kondisi di sekitar Anda? Apakah Anda bersedia menjadi bagian dari perubahan, sekecil apapun itu? Karena, membangun peradaban yang berkeadilan, dimulai dari kepedulian kita terhadap sesama.