Folikel-folikel kecil ini lalu diambil, disimpan dalam larutan khusus, dan kemudian ditanamkan ke area target dengan sudut dan arah yang disesuaikan agar tumbuh searah dengan rambut asli.
Kuncinya ada di detail—dokter harus benar-benar memperhatikan pola tumbuh alami rambut tiap individu, biar hasil akhirnya nggak terlihat kaku atau seperti wig.
Keunggulan besar dari transplantasi rambut adalah sifatnya yang permanen—folikel yang sudah ditanam akan terus tumbuh seumur hidup, asal dirawat dengan baik.
Ini karena rambut dari area donor memang kebal terhadap kerontokan, jadi meskipun pasien tetap terpapar stres atau hormon pemicu botak, rambut hasil transplantasi tetap bertahan.
Nggak heran kalau makin banyak orang yang mulai melirik prosedur ini, terutama yang udah frustrasi dengan perawatan konvensional yang hasilnya sementara.
Agar pasien paham apa yang bakal mereka alami, biasanya prosedur dimulai dengan konsultasi mendalam—dokter akan analisis tingkat kebotakan, kondisi kulit kepala, dan menentukan berapa banyak graft atau satuan folikel yang dibutuhkan.
Setelah itu, area donor dibersihkan dan dicukur pendek biar memudahkan proses ekstraksi.
Meski terdengar intens, sebagian besar pasien melaporkan hanya merasa sedikit tidak nyaman, bukan sakit, karena prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal.
Lama prosedur bisa bervariasi, tergantung jumlah graft—ada yang selesai dalam satu hari, ada juga yang butuh dua sesi, terutama untuk kasus kebotakan luas.
Setelah selesai, pasien bisa pulang di hari yang sama, tapi harus menjaga kebersihan kulit kepala dan menghindari aktivitas berat selama beberapa hari.