Eventbogor.com – Setiap 21 April, Indonesia selalu punya alasan khusus untuk merayakan semangat perempuan yang tak kenal menyerah.
Momen itu dikenal sebagai Hari Kartini, hari yang diperingati untuk menghormati perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak dan kesetaraan perempuan di masa kolonial.
Kartini, yang lahir di Jepara pada 21 April 1879—bukan 1897 seperti yang sering keliru disebut—menjadi simbol perlawanan terhadap budaya yang membatasi perempuan hanya di ruang domestik.
Pemerintah Indonesia secara resmi mengukuhkan hari kelahirannya sebagai hari besar nasional lewat Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964.
Langkah ini bukan sekadar bentuk penghormatan, tapi juga pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan gender bukan hal yang baru, melainkan warisan yang harus terus dijaga.
Saat masih muda, Kartini sempat menuntut ilmu di Europese Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Belanda dan priyayi pribumi.
Di situlah pikirannya mulai terbuka lebar oleh pemikiran Barat yang menekankan pentingnya pendidikan, kebebasan, dan hak asasi.
Namun, begitu usianya mencapai 12 tahun, ia harus menjalani masa pingitan—tradisi yang memaksa perempuan bangsawan untuk tetap di rumah dan tidak boleh bebas keluar.
Dalam keterbatasan itulah Kartini justru menulis surat-surat yang kelak menjadi jejak sejarah.
Korespondensinya dengan teman-teman Belanda membuka jendela dunia tentang ketidakadilan yang dialami perempuan pribumi.