Mereka mulai diberi undangan palsu ke pesta tahun baru, dikirimi hadiah bohongan, atau jadi korban lelucon publik—dan dari situlah tradisi iseng ini mulai menyebar.
Lambat laun, guyonan tanggal 1 April nggak lagi terkait dengan perayaan tahun baru, tapi berubah jadi tradisi tahunan penuh kelakar yang diperingati secara luas.
Di Inggris, misalnya, lelucon cuma berlaku sampai siang hari, dan kalau kamu jadi korban setelah jam 12, kamu bukan cuma kena tipu, tapi juga dianggap “orang bodoh”.
Sementara di Prancis, orang-orang suka nempel gambar ikan di punggung temannya diam-diam, lalu teriak “Poisson d’Avril!”—yang artinya “Ikan April”—sebagai simbol keisengan.
Di Indonesia, istilah “April Mop” lebih populer daripada “April Fools’ Day”, dan sering dipakai di media sosial, sekolah, atau kantor sebagai ajang candaan ringan.
Walau begitu, ada juga yang nggak terlalu suka dengan tradisi ini, terutama kalau leluconnya kelewatan atau merugikan orang lain.
Di era digital seperti sekarang, April Mop bahkan jadi ajang kreativitas besar-besaran dari perusahaan dan media, dengan merilis berita palsu atau produk fiktif yang terdengar meyakinkan.
Google pernah bikin fitur “Google Nose”, sementara BBC pernah menyiarkan dokumenter palsu tentang ikan yang bisa berjalan di darat.
Namun, meski banyak yang menikmati, tetap ada batasannya—terutama saat hoax bisa dengan cepat menyebar dan memicu kepanikan.
Untuk itu, meski 1 April jadi hari yang santai, bijak dalam bercanda tetap jadi kunci agar semua orang bisa tertawa bareng tanpa ada yang terluka.