Saat partikel debu dari komet itu menyentuh atmosfer, mereka terbakar dan menciptakan lintasan cahaya cepat yang sering disebut ‘bintang jatuh’.
Di puncak aktivitasnya, pengamat bisa melihat sekitar 10–20 meteor per jam, terutama dari arah rasi bintang Lyra.
Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah beberapa jam sebelum fajar, dengan syarat lokasi pengamatan jauh dari lampu kota dan polusi cahaya.
Dua hari berselang, tepatnya 24 April 2026, ada fenomena yang lebih samar tapi tetap menarik: hujan meteor Pi Puppid.
Meski intensitasnya lebih rendah dibanding Lyrid, hujan meteor ini bisa jadi kejutan manis bagi yang masih begadang.
Asalnya dari komet periode panjang 26P/Grigg-Skjellerup, dan biasanya lebih aktif saat diamati dari belahan bumi selatan—yang menguntungkan bagi pengamat di Indonesia.
Karena cahayanya cenderung redup, dibutuhkan langit gelap dan kesabaran ekstra untuk menangkap kilatan meteor ini.
Yang menarik, April 2026 juga berpotensi menampilkan konjungsi antarplanet atau benda langit lain, meski detail pastinya perlu pemantauan lebih lanjut dari lembaga astronomi.
Tapi satu hal yang pasti: ini saat yang tepat buat mengajak keluarga atau teman untuk sekadar duduk, menatap langit, dan merasakan betapa luasnya alam semesta.
Jadi, siapkan kamera, cek prakiraan cuaca, dan jangan lupa bawa jaket—malam bisa dingin saat menunggu meteor muncul.