Ada juga ikrar yang dimulai dengan seruan ke hadirat Allah, seperti “Duh Gusti Allah pangeran kula, sedaya pangalembono kunjuk wonten ngarso paduka.”
Ini menunjukkan bahwa permohonan maaf bukan hanya antarmanusia, tapi juga bagian dari ibadah dan pendekatan diri kepada Tuhan.
Menggunakan bahasa Jawa dalam ikrar juga menjadi cara melestarikan budaya lokal di tengah modernisasi.
Terlebih bagi keluarga yang tinggal di perantauan, momen ini bisa membangkitkan rasa kembali ke akar budaya.
Beberapa versi ikrar yang beredar di 2026 sengaja dibuat singkat agar mudah dihafal dan relevan dengan waktu acara yang terbatas.
Tapi meski singkat, maknanya tetap dalam dan tidak kehilangan esensi spiritualnya.
Halal bihalal bukan cuma soal ritual, tapi juga soal komitmen untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial.
Dengan membaca ikrar, setiap orang diingatkan bahwa kesalahan adalah hal yang manusiawi, tapi meminta maaf dan memaafkan adalah bentuk kemuliaan.
Bagi yang butuh referensi, banyak contoh ikrar halal bihalal bahasa Jawa yang bisa ditemukan, baik dari sumber cetak maupun digital.
Beberapa bahkan dibagikan di platform seperti Pinterest dan media sosial lainnya sebagai inspirasi bagi penyelenggara acara.