EventBogor.com – Kota Bogor, Jawa Barat, kembali bergemuruh dengan semangat kebudayaan. Museum Pajajaran, yang terletak di Kelurahan Batutulis, menjadi saksi bisu dari gelaran akbar yang sarat makna: peresmian pameran Riksa Wisesa oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada Kamis, 5 Februari 2026. Acara ini bukan sekadar pameran, melainkan sebuah langkah krusial dalam upaya menghidupkan kembali denyut nadi sejarah dan budaya Sunda yang kaya raya.
Mengapa ini penting? Di tengah arus globalisasi yang deras, pelestarian budaya lokal menjadi sebuah keharusan. Generasi muda adalah kunci utama dalam menjaga agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman. Pameran Riksa Wisesa hadir sebagai oase, memberikan ruang bagi masyarakat, khususnya generasi penerus, untuk lebih mengenal dan mencintai akar budaya mereka. Melalui pameran ini, diharapkan Museum Pajajaran tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, melainkan juga pusat edukasi dan interaksi budaya yang hidup.
Kujang dan Keris: Simbol Kemegahan Tanah Sunda
Pameran Riksa Wisesa secara khusus menampilkan keindahan dan keagungan pusaka khas Tanah Sunda. Kujang, senjata tradisional yang menjadi simbol kekuatan dan keberanian, serta keris Pasundan yang sarat nilai filosofis, menjadi bintang utama dalam pameran ini. Sebanyak 60 koleksi kujang dan keris dari berbagai sumber dipamerkan, mulai dari pinjaman dari komunitas budaya Sumedang Larang, koleksi pegiat budaya di Bogor, hingga koleksi pribadi Fadli Zon sendiri.
Kehadiran beragam koleksi ini memberikan gambaran komprehensif tentang kekayaan warisan budaya Sunda. Pengunjung dapat melihat berbagai bentuk, ukuran, dan motif kujang dan keris, masing-masing menyimpan cerita dan makna tersendiri. Setiap bilah kujang dan keris bukan hanya benda mati, melainkan representasi dari nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan melihat langsung koleksi ini, diharapkan pengunjung, terutama generasi muda, dapat merasakan kebanggaan dan kecintaan terhadap budaya Sunda.
Lebih dari Sekadar Pameran: Ekosistem Budaya Terpadu
Pameran Riksa Wisesa bukan hanya sekadar pajangan benda-benda bersejarah. Acara ini juga dilengkapi dengan Bursa Tosan Aji, sebuah pasar khusus yang memberikan ruang bagi masyarakat dan kolektor untuk berinteraksi dan bertransaksi pusaka secara terkurasi. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pengembangan ekonomi budaya, memberikan dampak positif bagi para pengrajin, kolektor, dan pelaku usaha di bidang kebudayaan.
Lebih jauh lagi, pengembangan Museum Pajajaran direncanakan menjadi kawasan ekosistem budaya terpadu. Rencana ini mencakup pembangunan berbagai fasilitas pendukung seperti amphitheater, kafe, area kuliner, dan gift shop. Dengan demikian, museum tidak hanya berfungsi sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai tempat interaksi budaya yang dinamis dan menyenangkan. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan seni, mencicipi kuliner khas Sunda, dan membeli suvenir sebagai kenang-kenangan.
Langkah Awal Menuju Masa Depan Kebudayaan Sunda
Fadli Zon menekankan bahwa pameran Riksa Wisesa hanyalah tahap awal dari pengembangan Museum Pajajaran secara berkelanjutan. Ke depan, museum ini akan terus dikembangkan dengan menghadirkan berbagai ekspresi budaya Sunda lainnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya Sunda, serta menjadikan museum sebagai pusat peradaban yang penting bagi masyarakat.
Dengan adanya revitalisasi Museum Pajajaran, diharapkan generasi muda semakin tertarik untuk mempelajari sejarah dan budaya Sunda. Museum ini akan menjadi tempat yang inspiratif dan edukatif, tempat di mana mereka dapat menemukan identitas dan kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat Sunda. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan budaya Sunda yang lebih gemilang.