EventBogor.com - Jakarta, bak kota di tengah gurun. Sinar matahari terasa membakar kulit, suhu meroket hingga 35,6 derajat Celcius. Kabar baiknya? Pemerintah tak tinggal diam. Warga diimbau untuk 'berperang' melawan dehidrasi dengan minum 10 gelas air sehari. Tapi, kenapa sih, ini penting banget sekarang?
Bayangkan Anda sedang berjalan di siang bolong, terik matahari menusuk kulit. Keringat bercucuran, tenggorokan terasa kering kerontang. Itulah gambaran Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat rekor suhu tertinggi pada pertengahan Maret 2026, mencapai 35,6 derajat Celsius. Bukan cuma bikin gerah, panas ekstrem ini juga mengancam kesehatan.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chico Hakim, mengakui ketidaknyamanan yang dirasakan warga. Kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, dan mereka yang punya kondisi kesehatan tertentu, adalah yang paling berisiko. Dehidrasi, heat exhaustion, hingga heat stroke, bisa mengintai. Jadi, apa yang bisa kita lakukan?
Jawabannya sederhana: air! Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau warganya untuk minum air putih minimal 8–10 gelas sehari. Bukan cuma pas haus, tapi juga sebelum haus datang. Ibarat mengisi tangki bahan bakar sebelum perjalanan jauh, tubuh kita butuh 'bahan bakar' yang cukup untuk menghadapi panas ekstrem.
Kenapa air putih begitu penting? Tubuh kita terdiri dari sekitar 60% air. Air berperan penting dalam mengatur suhu tubuh, membawa nutrisi, dan membuang racun. Ketika kita kekurangan cairan (dehidrasi), fungsi-fungsi vital ini terganggu. Akibatnya, kita bisa merasa lemas, pusing, bahkan pingsan.
Selain minum air putih, ada beberapa tips lain yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dari panas ekstrem:
Ini bukan cuma soal kenyamanan, tapi juga soal kesehatan. Mari kita jaga diri dan orang-orang di sekitar kita. Dengan sedikit kewaspadaan dan tindakan preventif, kita bisa melewati 'neraka' Jakarta ini.