Eventbogor.com – Biasanya, kalau dengar kata “CEO”, yang kebayang pasti orang dengan mobil mewah, jas mahal, dan ruang kerja megah di gedung tinggi. Tapi ternyata nggak semua pemimpin kayak gitu. Ada satu sosok yang justru dikenal karena kesederhanaannya — dia adalah Haruka Nishimatsu, mantan CEO Japan Airlines (JAL).
Di masa sulit, tepatnya saat JAL mengalami krisis keuangan besar di tahun 2008, Nishimatsu bikin langkah yang bikin banyak orang tercengang. Bukannya cari cara buat nyelametin diri sendiri, dia justru memilih untuk memotong gajinya sendiri sampai lebih kecil dari para pilot dan staf. Bahkan, kabarnya gajinya sempat turun drastis hingga setara dengan karyawan biasa!
Tapi yang paling bikin kagum, Nishimatsu juga memutuskan untuk tidak menggunakan mobil dinas dan malah naik bus umum ke kantor setiap hari. Buat dia, itu bentuk solidaritas dan empati terhadap seluruh pegawai yang juga harus berjuang keras di tengah situasi sulit. Sambil duduk di bus bersama warga biasa, Nishimatsu menunjukkan kalau pemimpin sejati nggak harus selalu di atas — justru harus dekat dengan orang-orangnya.
Pemimpin yang Benar-Benar Turun Tangan
Nggak cuma soal gaya hidup sederhana, cara Nishimatsu memimpin juga patut diacungi jempol. Dia sering makan di kantin bareng staf, ngobrol langsung tanpa jarak, dan dengerin keluh kesah karyawan. Buatnya, semua orang di perusahaan punya peran penting, dari level terendah sampai tertinggi.
Langkah-langkah kecil itu ternyata berdampak besar. Banyak karyawan yang jadi termotivasi dan merasa dihargai. Walaupun JAL sempat jatuh, semangat kebersamaan dan pengorbanan dari seluruh tim akhirnya bantu perusahaan itu bangkit lagi. Cerita ini pun jadi contoh nyata tentang kepemimpinan yang berani, empatik, dan manusiawi.
Pelajaran dari Kisah Haruka Nishimatsu
Dari perjalanan hidup Nishimatsu, kita bisa belajar satu hal penting: integritas dan ketulusan jauh lebih berharga dari sekadar jabatan atau gaji tinggi. Dalam dunia bisnis modern yang kadang penuh citra dan kompetisi, sikap rendah hati seperti ini justru jadi napas segar yang menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.
Bayangin kalau semua pemimpin punya cara pikir kayak Nishimatsu — bukan cuma mikirin keuntungan pribadi, tapi juga kesejahteraan timnya. Dunia kerja bakal jauh lebih sehat, solid, dan penuh rasa hormat.
Kisahnya jadi pengingat kalau terkadang, langkah paling sederhana seperti memotong gaji atau naik transportasi umum bisa punya makna besar buat menunjukkan rasa tanggung jawab dan empati. Haruka Nishimatsu udah buktiin kalau jadi pemimpin hebat itu bukan tentang gaya hidup glamor, tapi tentang keberanian buat berkorban demi orang lain.