EventBogor.com – Jakarta tengah bersiap menghadapi gelombang demonstrasi dari mahasiswa yang berencana menyampaikan aspirasi mereka di depan Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI pada Senin, 19 Januari 2026. Menanggapi hal ini, Polda Metro Jaya telah mengerahkan kekuatan besar untuk memastikan keamanan dan ketertiban selama aksi berlangsung. Sebanyak 1.289 personel gabungan siap diturunkan untuk mengawal jalannya penyampaian pendapat dari para mahasiswa.
Keputusan pengerahan ribuan personel ini mencerminkan keseriusan pihak kepolisian dalam menjaga stabilitas dan keamanan di pusat kota Jakarta. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap rencana unjuk rasa yang melibatkan beberapa kelompok mahasiswa. Dengan demikian, diharapkan aksi penyampaian pendapat dapat berjalan lancar tanpa gangguan berarti, serta tetap berada dalam koridor hukum dan aturan yang berlaku.
Dua Lokasi, Satu Tujuan: Aspirasi Mahasiswa
Menurut Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Erlyn Sumantri, aksi demonstrasi ini akan terpusat di dua lokasi strategis. Kelompok pertama, yang mengatasnamakan Koperasi Wahana Kalpika, berencana menyampaikan aspirasi mereka di Silang Selatan Monas. Sementara itu, kelompok mahasiswa lainnya yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Indraprasta PGRI akan melakukan aksi di depan Gedung DPR/MPR RI. Kedua lokasi ini dipilih karena memiliki nilai simbolis dan strategis dalam penyampaian aspirasi.
Pemilihan lokasi ini menunjukkan bahwa para demonstran ingin menyampaikan pesan mereka secara langsung kepada pemerintah dan para wakil rakyat. Dengan berkumpul di depan Istana Negara dan Gedung DPR/MPR RI, mereka berharap suara mereka akan lebih didengar dan diperhatikan oleh pengambil kebijakan. Hal ini sejalan dengan prinsip demokrasi yang memberikan kebebasan bagi warga negara untuk menyampaikan pendapat.
Pendekatan Humanis: Kunci Pengamanan
Dalam upaya pengamanan, pihak kepolisian berkomitmen untuk mengedepankan pendekatan humanis. Iptu Erlyn Sumantri menegaskan bahwa kehadiran polisi adalah untuk melayani dan memastikan kegiatan penyampaian aspirasi berjalan aman dan tertib. Hal ini menunjukkan bahwa polisi tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga sebagai fasilitator bagi masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat mereka.
Pendekatan humanis ini sangat penting untuk menciptakan suasana yang kondusif selama aksi berlangsung. Dengan berkomunikasi secara baik dan mengedepankan dialog, polisi dapat meredam potensi konflik dan mencegah terjadinya tindakan anarkis. Tujuannya adalah agar penyampaian aspirasi dapat dilakukan secara damai dan tanpa merugikan pihak manapun.
Imbauan untuk Tertib dan Damai
Selain mengerahkan personel pengamanan, pihak kepolisian juga memberikan imbauan kepada para peserta aksi untuk menyampaikan tuntutan mereka secara tertib dan damai. Iptu Erlyn Sumantri mengingatkan agar tidak melakukan tindakan provokatif yang dapat memicu kerusuhan, serta menghindari tindakan anarkis seperti membakar ban bekas, merusak fasilitas umum, dan melawan petugas.
Imbauan ini sangat penting untuk menjaga agar aksi demonstrasi tetap berada dalam koridor hukum. Dengan mematuhi aturan dan menjaga ketertiban, para demonstran dapat menunjukkan bahwa mereka adalah warga negara yang bertanggung jawab dan menghargai nilai-nilai demokrasi. Hal ini juga akan menciptakan citra positif bagi gerakan mahasiswa di mata masyarakat luas.
Keseluruhan, pengerahan ribuan personel polisi dan imbauan untuk menjaga ketertiban adalah upaya bersama untuk menciptakan situasi yang kondusif selama aksi demonstrasi mahasiswa. Diharapkan, dengan kerjasama dari semua pihak, penyampaian aspirasi dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.