EventBogor.com – Dunia tampaknya sedang menyaksikan pergeseran paradigma yang menarik dalam pernikahan modern. Lebih dari sekadar seremoni cinta, ikatan suci ini kini menjadi panggung bagi ekspresi nilai-nilai kesetaraan dan keadilan. Fenomena ‘pernikahan ganda’ atau penggunaan nama belakang ganda oleh pasangan pria, seperti yang dilakukan oleh Brooklyn Beckham dan perenang Olimpiade Adam Peaty, menjadi sorotan utama. Namun, mengapa hal ini menjadi penting dan apa dampaknya bagi masyarakat?
Perubahan ini bukan hanya soal nama di akta nikah. Lebih dari itu, ini adalah simbol perlawanan terhadap tradisi patriarki yang telah mengakar kuat dalam budaya pernikahan. Dalam sejarah, pernikahan seringkali menjadi alat untuk melanggengkan kekuasaan dan kekayaan, dengan perempuan dipaksa meninggalkan identitas mereka demi kepentingan keluarga suami. Namun, kini, kita melihat pergeseran yang signifikan.
Pernikahan Ganda: Lebih dari Sekadar Tren
Brooklyn Beckham, putra dari pasangan selebritas David dan Victoria Beckham, mengawali tren ini ketika ia menikahi Nicola Peltz pada tahun 2022. Keputusan mereka untuk menggunakan nama belakang ganda, menjadi Brooklyn Peltz Beckham, menjadi simbol komitmen kesetaraan dalam pernikahan. Ini adalah langkah maju yang menyegarkan, berbeda dengan tradisi lama di mana pengantin wanita diharuskan meninggalkan nama belakangnya dan mengadopsi nama keluarga suami.
Mengikuti jejak Brooklyn, perenang Olimpiade Adam Peaty juga memutuskan untuk menggunakan nama ganda setelah menikahi Holly Ramsay, putri dari koki terkenal Gordon Ramsay. Keputusan ini, meskipun mungkin memiliki motivasi pribadi seperti hubungan yang kurang harmonis dengan keluarga, tetap menjadi simbol penting. Ini menunjukkan bahwa pria juga dapat berpartisipasi dalam perubahan yang lebih luas menuju kesetaraan gender dalam pernikahan.
Dampak Positif dan Tantangan di Masa Depan
Perubahan ini tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat, tetapi juga memiliki implikasi yang lebih luas bagi masyarakat. Pernikahan ganda menantang norma-norma tradisional dan mendorong kita untuk mempertimbangkan kembali bagaimana kita mendefinisikan peran gender dalam pernikahan. Ini adalah langkah kecil namun signifikan menuju kesetaraan yang lebih besar.
Namun, tentu saja, ada juga tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah kompleksitas administrasi. Jika tren ini terus berlanjut, dengan semakin banyak pasangan menggunakan nama belakang ganda, kita mungkin akan menghadapi tantangan logistik dalam hal pencatatan dan administrasi. Bayangkan, jika anak-anak dari pasangan dengan nama ganda menikah dan menggabungkan nama mereka, daftar kehadiran di sekolah mungkin akan memakan waktu lebih lama dari biasanya!
Selain itu, kita perlu memastikan bahwa perubahan ini tidak hanya berhenti pada penggunaan nama belakang ganda. Kita juga perlu terus berjuang untuk kesetaraan dalam semua aspek pernikahan, termasuk pembagian peran dan tanggung jawab, serta pengambilan keputusan dalam keluarga.
Mengapa Ini Penting?
Pada akhirnya, fenomena pernikahan ganda ini mengingatkan kita bahwa pernikahan yang baik adalah tentang kompromi, saling menghormati, dan berbagi identitas. Ini adalah cara bagi pasangan untuk menunjukkan komitmen mereka terhadap kesetaraan sejak awal. Diharapkan, tren ini akan terus berkembang dan menjadi norma di masa depan, di mana perempuan tidak lagi dipaksa meninggalkan identitas mereka, tetapi dapat berbagi nama dan membangun keluarga dengan kesetaraan.
Mungkin saja, di masa depan, kita akan melihat lebih banyak lagi pria yang dengan bangga bergabung dalam gerakan ini, menunjukkan bahwa kesetaraan gender adalah perjuangan bersama, bukan hanya tanggung jawab perempuan. Dengan begitu, kita akan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara bagi semua orang.