EventBogor.com – Parungpanjang, sebuah wilayah yang kerap menjadi sorotan karena aktivitas tambangnya, kembali mencuat ke permukaan. Kali ini, bukan hanya soal lalu lintas truk tambang yang padat, tetapi juga gesekan antara warga Tangerang dan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bogor. Insiden ini terjadi sebelum penutupan sementara tambang oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menambah kompleksitas permasalahan di wilayah tersebut.
Video yang beredar luas di media sosial menjadi bukti nyata bagaimana ketegangan itu terjadi. Dalam rekaman tersebut, terlihat jelas aksi protes keras dari sejumlah pria yang diduga warga Tangerang terhadap petugas Dishub Bogor. Mereka mempertanyakan tindakan petugas yang terkesan membiarkan truk tronton berukuran besar melintas di luar jam operasional yang seharusnya. Kejadian ini bukan hanya sekadar insiden kecil, tetapi cerminan dari masalah yang lebih besar terkait regulasi, penegakan hukum, dan dampak aktivitas tambang terhadap masyarakat sekitar.
Kronologi Kejadian: Saat Petugas Dishub Kena Getahnya
Menurut keterangan Behaki, salah seorang anggota Dishub Kabupaten Bogor, insiden tersebut terjadi pada Selasa, 16 November 2025, sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, petugas Dishub sedang melakukan rolling personel di lokasi. Kondisi ini diperparah dengan adanya bantuan kendali operasi (BKO) dari Kantor Dishub Cibinong. Kehadiran petugas tambahan ini seharusnya memperlancar lalu lintas, namun justru menjadi pemicu ketegangan.
Dishub Kabupaten Bogor memang memiliki tugas berat di wilayah perbatasan Parungpanjang dan Kabupaten Tangerang. Mereka harus berjaga selama 18 jam penuh, mulai dari pukul 04.00 WIB pagi hingga pukul 22.00 WIB malam. Tugas ini dibagi ke dalam empat titik berbeda, dengan setiap titik dijaga oleh 6 hingga 10 personel. Beban kerja yang tinggi ini menunjukkan betapa krusialnya peran Dishub dalam mengurai kemacetan akibat lalu lintas truk tambang.
Kemacetan Parah: Ketika Jalan Tak Lagi Ramah
Permasalahan utama yang memicu kemarahan warga adalah kemacetan parah yang kerap terjadi di Parungpanjang. Ketika truk tambang menumpuk, kondisi jalan menjadi sangat krodit. Pengguna jalan lain, termasuk pengendara motor, terjebak dalam kemacetan yang tak berujung. Kendaraan bahkan tidak bisa bergerak sama sekali, menciptakan situasi yang sangat merugikan dan menyebalkan.
Behaki menjelaskan bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi kemacetan adalah dengan mengeluarkan beberapa truk tronton angkutan tambang. Namun, upaya ini ternyata tidak selalu berjalan mulus. Saat truk-truk tersebut mulai bergerak, warga datang dan meluapkan emosi mereka kepada petugas Dishub. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan adanya pergantian petugas dan kendaraan dinas yang terparkir, yang diduga memperburuk situasi.
Kesalahpahaman Berujung Aksi Blokade Jalan
Situasi semakin memanas ketika terjadi kesalahpahaman antara petugas Dishub dan warga Desa Cirarab, Kabupaten Tangerang. Warga merasa kecewa dengan tindakan petugas yang dianggap tidak tegas dalam menertibkan lalu lintas truk tambang. Akibatnya, para sopir truk tambang juga ikut melakukan aksi blokade jalan, memperparah situasi dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa penegakan aturan lalu lintas di wilayah tambang sangat krusial. Dibutuhkan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, petugas Dishub, dan masyarakat untuk mencari solusi yang tepat. Penutupan sementara tambang oleh Gubernur Jawa Barat menjadi langkah awal untuk menertibkan aktivitas tambang, namun solusi jangka panjang diperlukan untuk mengatasi masalah kemacetan, dampak lingkungan, dan konflik sosial yang timbul akibat aktivitas tersebut.
Kejadian di Parungpanjang ini juga menunjukkan pentingnya komunikasi yang efektif antara petugas Dishub dan masyarakat. Informasi yang jelas mengenai aturan lalu lintas, jam operasional truk tambang, dan upaya penanganan kemacetan perlu disampaikan secara transparan kepada masyarakat. Dengan demikian, diharapkan kesalahpahaman dapat dihindari, dan tercipta lingkungan yang lebih kondusif bagi semua pihak.