Muhammadiyah: Berpegang Teguh pada Hisab Modern
Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, memilih menggunakan metode hisab. Ini bukan sekadar tebak-tebakan, melainkan perhitungan astronomi yang cermat. Mereka merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menentukan tanggal berdasarkan posisi bulan secara ilmiah. Artinya, jika bulan ‘terlihat’ secara matematis pada tanggal tertentu, itulah awal bulan baru, terlepas dari di mana pun Anda berada di Bumi. Pendekatan ini menawarkan kepastian jadwal jauh hari sebelumnya, ibarat memesan tiket kereta api jauh-jauh hari agar tak kehabisan.
Pemerintah dan NU: Menjaga Tradisi Rukyatul Hilal
Sementara itu, pemerintah dan NU cenderung mengandalkan rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung hilal (bulan sabit pertama) setelah matahari terbenam. Ini adalah tradisi yang telah mengakar kuat di kalangan umat Islam Indonesia. Proses ini melibatkan banyak pihak, mulai dari para ahli falak hingga tokoh masyarakat di daerah. Tentu saja, metode ini juga memiliki tantangan, terutama karena cuaca dan kondisi geografis yang bisa memengaruhi hasil pengamatan. Namun, semangat gotong royong dan kebersamaan dalam menentukan awal puasa tetap menjadi nilai yang dijunjung tinggi.