EventBogor.com – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bogor pada Selasa malam, 29 Juli 2025, menyisakan duka bagi warga Perumahan Arum Park. Tembok penahan tanah (TPT) jebol, mengundang banjir bandang yang merendam rumah-rumah di Kampung Baru, Desa Bantarsari. Peristiwa ini bukan hanya soal kerusakan fisik, tapi juga luka bagi mereka yang kini harus berjuang membersihkan sisa-sisa bencana.
Bayangkan, Anda baru saja selesai menikmati makan malam. Tiba-tiba, suara gemuruh dan air bah datang menerjang. Itulah yang dialami warga Kampung Baru saat hujan menggila. Air dari anak Kali Cideupit yang terhalang longsoran TPT, meluap tak terkendali. Rumah-rumah di tiga RT, di lingkungan RW 007 dan RW 005, seketika berubah menjadi lautan. Perabotan hanyut, kenangan basah, dan ketidakpastian menyelimuti.
Kengerian di Balik Derasnya Hujan
Peristiwa terjadi sekitar pukul 19.00 WIB, saat hujan mencapai puncaknya. Nandang, Penanggung Jawab Proyek Perumahan Arum Park, mengakui bahwa kejadian ini di luar kebiasaan. “Kemarin malam memang hujan cukup deras, berbeda dari biasanya,” ujarnya. Struktur yang jebol merupakan pagar dan turap setinggi 5 meter, terdiri dari pondasi dan pagar. Dampaknya? Banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini menjadi pengingat pahit betapa dahsyatnya alam, sekaligus rapuhnya perlindungan yang kita bangun.
Langkah Cepat, Pertanyaan Menggantung
Pihak pengembang bergerak cepat. Puing-puing dibersihkan, rumah warga diperbaiki. Komunikasi terjalin, rencana penanggulangan disusun. Termasuk normalisasi saluran air melalui program CSR. Tentu, ini langkah positif. Namun, di tengah upaya itu, muncul pertanyaan krusial. Kelengkapan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan rencana tapak (site plan) proyek perumahan, menjadi sorotan. Apakah semua sudah sesuai aturan? Apakah potensi risiko telah diantisipasi dengan matang?
Apa Artinya Bagi Kantong Anda?
Bencana ini bukan hanya urusan warga Arum Park. Ini pelajaran berharga bagi kita semua. Ini adalah pengingat bahwa pembangunan harus sejalan dengan mitigasi bencana. Bahwa perencanaan yang matang, termasuk kajian lingkungan yang komprehensif, adalah kunci. Jangan sampai, investasi properti berujung pada kerugian dan penderitaan. Jangan sampai, mimpi indah memiliki rumah berubah menjadi mimpi buruk karena banjir.
Masa Depan di Tengah Air Mata
Saat ini, warga berjuang bangkit. Mereka butuh bantuan, uluran tangan, dan kepastian. Pemerintah daerah, pengembang, dan kita semua, punya peran. Memastikan penanganan cepat dan tepat adalah harga mati. Mengawal proses perizinan dengan cermat adalah kewajiban. Dan yang terpenting, belajar dari pengalaman. Agar tragedi serupa tidak terulang, di mana pun. Mampukah kita belajar dari bencana ini? Akankah ada perubahan nyata dalam perencanaan pembangunan, demi masa depan yang lebih aman bagi kita semua?