Tak hanya penyempitan jalan, Bang Kent juga menyoroti sejumlah faktor lain yang memperparah kemacetan. Keberadaan angkot JakLingko yang berhenti tepat setelah perlintasan kereta api menjadi perhatian khusus. Posisi tersebut, menurutnya, justru menjadi bottleneck yang menghambat arus lalu lintas. “Angkot berhenti persis setelah perlintasan kereta. Ini memperparah kemacetan,” tegasnya. Solusi yang ditawarkan adalah menggeser titik berhenti angkot agar tidak menghalangi pergerakan kendaraan.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah masih melintasnya truk kontainer dan bus besar di ruas jalan yang menyempit. Kondisi ini jelas tidak ideal dan memperberat beban lalu lintas. Bang Kent meminta Dishub DKI Jakarta untuk segera mencari solusi, termasuk mengalihkan kendaraan besar ke jalur alternatif selama proyek berlangsung.