Bayangkan, Anda melintas di Jalan HR Rasuna Said, dulu pandangan Anda terhalang oleh tiang-tiang monorel yang mangkrak. Kini, pandangan itu telah berubah. Pramono dengan sigap menuntaskan pekerjaan yang telah lama tertunda. “Bang Yos, monorelnya sudah rapi,” ujarnya bangga. Seratus sembilan tiang monorel yang dulu menjadi ‘hantu’ kota, kini telah dipangkas dan ditata. Sebuah simbol, bahwa janji yang tertunda, akhirnya bisa dituntaskan. Penataan jalan di sekitarnya pun ditargetkan selesai Juni. Ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan simbol bahwa Jakarta terus bergerak maju, mengatasi tantangan masa lalu.
Menyatukan Betawi, Membangun Harmoni
Tak hanya infrastruktur, Pramono juga menyoroti aspek sosial. Kepada Fauzi Bowo, ia berpesan untuk segera membentuk Musyawarah Kaum Betawi (MKB). Sebuah langkah strategis untuk merajut kembali tali persatuan kaum Betawi yang sempat renggang. Jakarta yang maju, haruslah berakar pada persatuan dan harmoni warganya. Pramono juga menegaskan komitmennya untuk merealisasikan revitalisasi Museum Husni Thamrin, sebagai upaya pelestarian budaya.