EventBogor.com – Jakarta kembali bergejolak. Video viral yang memperlihatkan aksi pemalakan terhadap sopir bajaj di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, menggugah amarah Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Sebuah insiden yang seharusnya tidak terjadi di tengah hiruk pikuk kota metropolitan. Tapi, mengapa aksi premanisme masih merajalela?
Skenario ‘Setoran’ yang Meresahkan
Bayangkan Anda seorang sopir bajaj, berjuang mencari nafkah di kerasnya ibu kota. Setiap hari, Anda harus ‘menyisihkan’ Rp100 ribu hanya untuk ‘aman’ dari preman. Uang yang seharusnya untuk keluarga, kini harus rela ‘dikorbankan’ demi menghindari ancaman dan kekerasan. Sungguh miris, bukan?
Video yang beredar di media sosial itu bukan hanya sekadar rekaman. Ia adalah cermin dari realitas pahit yang dialami para sopir bajaj di Tanah Abang. Mereka, yang mencari rezeki di tengah kemacetan, harus menghadapi ‘setoran’ wajib yang memeras keringat mereka. Jika menolak? Kaca bajaj bisa pecah, nyawa terancam. Sebuah lingkaran setan yang sulit diputus.