EventBogor.com – Kabar tak sedap datang dari Babakan Madang. Warga RW 05 Desa Sumurbatu bersuara lantang menolak rencana pembangunan jalan tembus yang dinilai sarat masalah. Bukan hanya soal infrastruktur, penolakan ini mengungkap dugaan praktik tata kelola yang buruk dan minimnya transparansi. Apa yang sebenarnya terjadi di balik proyek yang ramai diperbincangkan ini?
Antara Janji Pembangunan dan Curiga Warga
Bayangkan Anda adalah warga yang tinggal puluhan tahun di lingkungan yang sama. Tiba-tiba, muncul rencana pembangunan yang akan mengubah segalanya. Jalan baru, akses lebih mudah, mungkin terlihat menjanjikan. Tapi, bagaimana jika semua itu datang tanpa informasi yang jelas, tanpa melibatkan Anda sebagai pemilik sah lingkungan tersebut? Itulah yang dirasakan warga Babakan Madang saat ini.
Sejumlah persoalan menjadi sorotan utama. Dokumen perencanaan yang disimpan rapat-rapat, dasar hukum yang masih abu-abu, dan kurangnya partisipasi warga adalah bara api yang memicu gejolak. Ditambah lagi, munculnya dugaan kuat bahwa proyek ini lebih berpihak pada kepentingan pengembang, termasuk PT Sentul City Tbk. Bisakah pembangunan yang ideal berjalan tanpa kepercayaan dari mereka yang terdampak?
Ketika Keseimbangan Kuasa Tergoyah
Julius, Wakil Ketua Paguyuban Warga Vepasamo Sentul City, dengan gamblang menggambarkan situasi ini sebagai ketimpangan relasi kuasa. Masyarakat merasa ditinggalkan, suaranya tak didengar di tengah gemuruh ambisi pemilik modal. Analogi sederhana: Anda memiliki hak atas rumah Anda, tapi orang lain seenaknya menentukan perubahan tanpa izin.
