Nama-nama besar seperti Chandra Asri, Krakatau Posco, hingga Antam juga tidak ketinggalan menyabet peringkat Hijau karena dianggap sudah melampaui standar kepatuhan lingkungan.
Namun, Menteri Lingkungan Hidup sempat memberikan catatan kecil yang cukup menohok, bahwa peserta PROPER ini belum sampai 10 persen dari total perusahaan di Indonesia.
Angka ini menunjukkan bahwa meski sudah ada progres, perjalanan menuju kesadaran lingkungan yang merata masih cukup panjang bagi para pelaku usaha.
Harapan besar kini tertuju pada perdagangan karbon yang dijadwalkan bakal resmi bergulir penuh pada Juni 2026 mendatang.
Hashim Djojohadikusumo pun optimis kalau miliaran dolar bakal mengalir masuk ke Indonesia karena investor global sangat mengincar potensi karbon dari hutan dan laut kita.
Walaupun bursa karbon di akhir tahun lalu sempat terkesan lesu, banyak pihak yakin regulasi baru ini akan menjadi mesin uang baru bagi negara sekaligus pelindung alam.
Selain itu, kolaborasi energi hijau antara Indonesia dan Jepang terus diperkuat untuk memastikan ketahanan energi nasional tetap stabil di tengah transisi global.
Melihat masifnya pergerakan dari berbagai sektor, rasanya transformasi menuju Indonesia yang lebih bersih bukan lagi sekadar impian di atas kertas.