Salah satu titik paling kelam dari perlawanan ini adalah kerusuhan Haymarket di Chicago, yang berujung pada kematian puluhan orang, baik buruh maupun aparat.
Insiden itu kemudian menjadi simbol perlawanan global terhadap penindasan buruh dan menjadi dasar penetapan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional.
Sejak saat itu, gerakan buruh terus berkembang, menuntut upah layak, jaminan sosial, perlindungan hukum, serta penghentian diskriminasi di tempat kerja.
Di Indonesia, peringatan Hari Buruh kini tak hanya jadi ajang unjuk rasa, tapi juga ruang dialog antara serikat pekerja, pemerintah, dan pengusaha.
Banyak agenda dibahas, mulai dari kenaikan upah minimum, reformasi sistem outsourcing, hingga perlindungan pekerja informal dan migran.
Meski sudah ada perbaikan, isu seperti upah tidak layak, PHK sepihak, dan minimnya perlindungan hukum masih sering mengemuka.
Bagi sebagian orang, 1 Mei mungkin hanya hari libur tambahan, tapi bagi jutaan buruh, ini adalah hari peringatan yang sarat makna perjuangan.
Dibalik euforia libur, ada sejarah panjang pengorbanan yang tak boleh dilupakan begitu saja.
Di tengah pesatnya transformasi digital dan otomatisasi, tantangan buruh ke depan justru makin kompleks.
Perlu ada keseimbangan antara kemajuan teknologi dan perlindungan hak pekerja agar tak ada yang tertinggal.