Tim kurator menelusuri sekitar 360 edisi Horison dari koleksi PDS H.B. Jassin, lalu memilih sejumlah cerpen, puisi, dan lebih dari 30 ilustrasi dari periode 1966 hingga 1990.
Pemilihan rentang waktu itu bukan kebetulan—era tersebut dikenal sebagai masa keemasan sastra Indonesia, penuh gejolak ide dan inovasi bahasa.
Ilustrasi dan desain sampul yang dipamerkan juga menunjukkan bagaimana visual berdialog dengan teks, menciptakan lapisan makna yang lebih kaya.
Tak hanya arsip cetak, pameran ini juga menampilkan foto-foto langka dari Dewan Kesenian Jakarta yang menggambarkan kehidupan seni di kawasan TIM.
Foto-foto itu menjadi jendela ke masa lalu, memperlihatkan bagaimana sastrawan, seniman, dan intelektual saling bersilaturahmi dan berdebat di ruang-ruang publik.
Yang menarik, pameran ini sengaja dibuat dengan pendekatan fragmentaris, bukan narasi linier.
Pengunjung akan menemukan potongan-potongan momen, kutipan redaksi, dan catatan kecil yang mengungkap dinamika di balik meja redaksi.
Horison ditampilkan bukan sebagai majalah biasa, melainkan sebagai ekosistem gagasan yang hidup—tempat penulis, ilustrator, pembaca, dan bahkan sensor berinteraksi.
Pameran dibagi dalam beberapa zona tematik, termasuk linimasa perjalanan Horison, jejak dewan redaksi dari generasi ke generasi, dan eksplorasi estetika visual.
Salah satu bagian yang paling menyentuh adalah arsip audio pembacaan puisi oleh para sastrawan ternama.