Sehari sebelumnya, pada malam pengerupukan, masyarakat akan menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang meriah.
Patung raksasa yang melambangkan bhuta kala atau energi negatif ini dibawa keliling desa sambil diarak dengan iringan musik gamelan yang menggelegar.
Tujuannya jelas: mengusir roh jahat dan memastikan keseimbangan alam tetap terjaga sebelum memasuki hari hening.
Pawai ini bukan cuma tontonan, tapi juga bagian dari prosesi sakral yang menunjukkan kemenangan dharma melawan adharma.
Bagi yang ingin menyebarkan pesan damai dan harapan di tengah kesunyian Nyepi, membagikan twibbon dengan ucapan seperti ‘Selamat Hari Raya Nyepi 2026, Tahun Baru Saka 1948, damai di hati, sejuk di alam’ bisa jadi bentuk partisipasi yang sederhana namun bermakna.
Banyak desain yang tersedia secara gratis, bahkan beberapa dibuat oleh desainer lokal dengan sentuhan budaya Bali yang kental.
Jadi, tak perlu repot, cukup klik, unggah, dan bagikan.
Di tengah cepatnya arus digital, momen seperti Nyepi mengingatkan kita semua untuk melambat, merenung, dan kembali ke esensi kehidupan.
Dan melalui twibbon, semangat itu bisa tetap terjaga—meski hanya lewat satu foto di media sosial.