Eventbogor.com – Perayaan Idul Adha 2026 tinggal menghitung bulan, dan sudah mulai banyak yang mempersiapkan hewan kurban.

Salah satu tren yang sering terjadi adalah patungan kurban sapi bersama tujuh orang.

Praktik ini makin populer karena harga sapi memang jauh lebih tinggi dibanding kambing atau domba, sehingga lebih ringan jika ditanggung bersama.

Tapi muncul pertanyaan, apakah sah jika satu ekor sapi dikurbankan oleh tujuh orang sekaligus?

Menurut pandangan mayoritas ulama, termasuk dalam mazhab Syafi’i dan Hambali, hal itu diperbolehkan.

Satu ekor sapi memang bisa dibagi hingga tujuh bagian, baik dari segi nilai maupun pahala, asalkan semua peserta patungan memiliki niat berkurban.

Ini berbeda dengan kambing atau domba yang hanya cukup untuk satu orang, meskipun dimiliki bersama.

Idul Adha 2026 sendiri diprediksi jatuh pada Rabu, 27 Mei, sesuai dengan kalender Hijriah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI.

Di hari tersebut, umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Lebaran Haji dengan melaksanakan ibadah kurban.

Kurban bukan cuma soal memotong hewan, tapi juga wujud ketaatan dan ketundukan hati kepada Allah SWT.

Sebagaimana hadis yang diriwayatkan, hewan kurban kelak akan datang utuh di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi yang berkurban.

Tapi tentu ada syaratnya, terutama untuk sapi.

Menurut BAZNAS, sapi baru sah dijadikan hewan kurban jika berusia minimal dua tahun dan memasuki tahun ketiga.

BACA JUGA :  5 Tanaman Pembawa Keberuntungan untuk Hunian Sehat dan Harmonis di Tahun 2026

Selain itu, kondisi hewan harus sehat, tidak cacat, tidak pincang, dan tidak terlalu kurus.

Rasulullah SAW secara tegas melarang penggunaan hewan kurban yang sakit parah atau dalam keadaan lemah.

Jadi, bagi yang berencana patungan, penting memastikan kualitas sapi tetap sesuai syariat.

Tidak hanya soal jumlah peserta, tapi juga kelayakan hewan itu sendiri.

Bagi yang masih punya utang, banyak yang bertanya apakah boleh ikut berkurban?

Secara umum, hukumnya tetap sah asalkan tidak memperparah kondisi keuangan dan utang tersebut bukan untuk kebutuhan primer.

Yang terpenting, niat ibadah harus lurus, bukan karena gengsi atau tekanan sosial.

Di tengah tren patungan ini, penting juga untuk tidak melupakan esensi dari kurban itu sendiri.

Bukan semata-mata soal berbagi daging, tapi juga tentang keikhlasan, solidaritas, dan pengorbanan.

Dengan memahami aturan dan maknanya, perayaan Idul Adha 2026 bisa lebih bermakna dan sesuai tuntunan.