EventBogor.com – Jakarta, sebuah kota metropolitan yang tak pernah tidur, menyimpan segudang cerita. Salah satunya adalah kisah pilu proyek monorel yang digagas untuk mengatasi kemacetan, namun berakhir dengan tiang-tiang besi yang berdiri kokoh tanpa fungsi. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso alias Bang Yos, berbagi cerita tentang awal mula ide brilian ini, yang kini menjadi pengingat pahit akan mimpi yang belum terwujud.
Bang Yos, dengan nada sedih, mengakui bahwa pemandangan tiang-tiang monorel yang terbengkalai di Jalan HR. Rasuna Said selalu menyayat hatinya. Proyek ini, yang seharusnya menjadi solusi transportasi modern, justru menjadi simbol kegagalan. Mari kita telusuri lebih dalam, bagaimana ide ini muncul, bagaimana ia dirancang, dan mengapa akhirnya harus kandas.
Awal Mula: Mimpi Mengatasi Kemacetan Jakarta
Semua berawal pada tahun 2003, ketika Jakarta mulai merasakan dampak buruk kemacetan yang semakin parah. Bang Yos, sebagai gubernur, merasa bertanggung jawab untuk mencari solusi. Setelah berdiskusi dengan para pakar transportasi, ia mendapatkan saran untuk membangun jaringan transportasi makro yang terintegrasi. Tujuannya adalah untuk mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum, sehingga kemacetan dapat diatasi.
Rencananya sangat ambisius. Bang Yos merancang empat moda transportasi utama dalam jangka panjang: MRT, Monorel, Busway (Transjakarta), dan Waterway. Konsepnya adalah integrasi, di mana setiap moda transportasi memiliki jalur sendiri, tetapi saling terhubung. Dengan demikian, warga Jakarta dan sekitarnya bisa bepergian dari satu titik ke titik lain dengan mudah, menggunakan transportasi umum yang nyaman.
Tantangan Investor dan Krisis Ekonomi
Namun, mewujudkan mimpi ini tidaklah mudah. Bang Yos mengakui bahwa tantangan pertama adalah mencari investor untuk proyek monorel. Indonesia saat itu masih dalam masa pemulihan dari krisis ekonomi yang dipicu oleh kerusuhan tahun 1998. Situasi ini membuat investor enggan menanamkan modal mereka dalam proyek infrastruktur berskala besar.
Sebagai solusi, Bang Yos memutuskan untuk memprioritaskan pembangunan Transjakarta. Proyek ini dinilai lebih memungkinkan karena tidak terlalu bergantung pada investor. Hal ini menunjukkan betapa pragmatisnya pendekatan Bang Yos dalam menghadapi realitas ekonomi yang sulit.
Titik Balik: Pencanangan oleh Presiden Megawati
Titik balik dalam proyek monorel terjadi pada tahun 2004, ketika Presiden Megawati Soekarnoputeri mencanangkan proyek ini. Kabar baiknya, investor dari China telah bersedia untuk berpartisipasi. Ini menjadi harapan baru bagi terwujudnya mimpi transportasi modern di Jakarta.
“Artinya saat dicanangkan Presiden itu berarti segala sesuatunya itu sudah ada gitu, rencananya jelas, investornya juga ada dari China,” jelas Bang Yos. Pencanangan oleh presiden memberikan legitimasi dan dorongan besar bagi proyek tersebut.
Akhir yang Menyedihkan: Mangkraknya Proyek
Sayangnya, setelah masa jabatan Sutiyoso sebagai Gubernur Jakarta berakhir pada tahun 2007, proyek monorel tidak dilanjutkan oleh gubernur penerusnya. Inilah akhir yang menyedihkan dari sebuah rencana besar. Tiang-tiang monorel yang sudah berdiri menjadi saksi bisu kegagalan, pengingat akan potensi yang hilang, dan pelajaran berharga bagi masa depan.
Kisah monorel Jakarta adalah cerminan kompleksitas pembangunan infrastruktur di Indonesia. Ia mengajarkan kita tentang pentingnya perencanaan matang, dukungan politik yang berkelanjutan, dan komitmen yang kuat dari semua pihak. Semoga, dari kegagalan ini, kita bisa belajar untuk membangun kota yang lebih baik di masa depan.