EventBogor.com – Kabar duka menyelimuti Kabupaten Bogor, tepatnya di area pertambangan PT Antam. Sebuah tragedi mengerikan merenggut nyawa enam penambang tradisional (gurandil) asal Kampung Urug, Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, pada Selasa, 13 Januari 2026. Peristiwa ini bukan hanya sekadar kecelakaan kerja, tetapi juga membuka luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan, mengukir kisah pilu di balik gemerlapnya tambang emas.
Hingga Minggu, 18 Januari, proses evakuasi masih berlangsung, menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga korban. Baru dua jenazah yang berhasil dievakuasi dan dimakamkan, yakni Edi Saputra dan Jaka. Empat korban lainnya masih tertahan di perut bumi, menunggu proses evakuasi yang penuh tantangan. Tragedi ini menjadi pengingat pahit akan risiko yang dihadapi para penambang tradisional yang mempertaruhkan nyawa demi mencari nafkah.
Kisah Pilu dari Rumah Duka: Harapan yang Pupus
Kesedihan mendalam terpancar dari raut wajah Puput (31), istri almarhum Edi Saputra. Ditemui di kediamannya, ia menceritakan bagaimana suaminya berpamitan pada Senin untuk pergi ke gunung, berjanji akan kembali setelah dua hari. Harapan Puput untuk menyambut kepulangan sang suami pupus sudah. Tak ada firasat buruk yang menyertai kepergian Edi, hanya senyum perpisahan yang kini menjadi kenangan pahit.
“Tidak ada firasat. Hari Senin itu Aa pamit mau ke gunung, katanya dua hari,” tutur Puput dengan mata berkaca-kaca. Dua hari berlalu, kabar duka justru datang dari rekan kerja Edi, mengabarkan bahwa sang suami telah tiada. Suara lirih Puput seolah mewakili duka seluruh keluarga korban, sebuah duka yang begitu dalam dan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.