EventBogor.com – Kabar pilu datang dari Kampung Pongkor, Nanggung, Bogor. Bayangkan, Anda melintas di jalan yang seharusnya mengantarkan ke rumah, justru menyambut dengan lubang menganga dan aspal yang mengelupas. Jalan utama yang dibangun tahun 2012 ini, kini bak ‘roller coaster’ ekstrem, memaksa warga bergotong royong menambal demi keselamatan. Mirisnya, kerusakan ini sudah berlangsung 14 tahun, tanpa sentuhan perbaikan berarti.

Jalan Rusak, Nyawa Taruhannya

Ketua Pemuda Kampung Pongkor, Ijam, menyuarakan keresahan yang sudah lama membara. “Kondisinya sangat memprihatinkan dan rawan kecelakaan,” ujarnya. Bukan hanya sekadar ketidaknyamanan, jalan rusak ini telah merenggut banyak korban. Kecelakaan kecil hingga insiden mengerikan seperti mobil yang terperosok ke jurang, menjadi bukti nyata betapa krusialnya perbaikan jalan ini.

Anda bisa membayangkan bagaimana sulitnya aktivitas sehari-hari. Mulai dari mengantar anak sekolah, pergi ke pasar, hingga mengangkut hasil panen. Semua terhambat oleh kondisi jalan yang buruk. Bayangkan pula, ketika ambulans harus berpacu dengan waktu membawa pasien gawat darurat, namun terhalang oleh jalan berlubang. Sungguh ironis!

Kenapa Ini Penting? Sekarang!

Kasus di Pongkor bukan cerita baru di Kabupaten Bogor. Ini adalah cermin dari ketimpangan pembangunan infrastruktur yang masih menghantui wilayah pinggiran. Saat pusat kota terus berbenah, tak jarang daerah lain justru terlupakan. Pembiaran seperti ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tapi juga soal hak dasar warga atas keselamatan dan aksesibilitas.

BACA JUGA :  Jakarta Darurat Banjir? Pramono Anung Bongkar Solusi Jitu!

Peristiwa ini menjadi wake-up call bagi pemerintah daerah. Harus ada prioritas yang jelas, mana yang lebih penting: pembangunan yang hanya dinikmati segelintir orang, atau perbaikan infrastruktur yang menyentuh hajat hidup orang banyak? Gotong royong warga adalah bukti nyata bahwa mereka tak tinggal diam. Namun, semangat warga tak boleh dibiarkan berjuang sendirian.

Apa Artinya Bagi Anda?

Kisah Pongkor seharusnya menyentak kesadaran kita semua. Ini bukan hanya masalah jalan rusak, tapi juga cerminan dari tata kelola daerah. Sebagai warga, kita punya hak untuk menuntut. Jangan ragu untuk bersuara, mengawal, dan memastikan pemerintah daerah benar-benar hadir untuk melayani. Perhatikan lingkungan sekitar, laporkan jika ada hal yang salah, dan jangan pernah berhenti peduli.

Mari kita belajar dari warga Pongkor. Kekuatan kebersamaan mampu mengubah keadaan. Dengan semangat gotong royong, kita bisa mendorong perubahan positif, dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Semoga, kisah Kampung Pongkor menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa pembangunan yang berkelanjutan adalah yang merata dan berkeadilan.