EventBogor.com – Dunia maya, khususnya media sosial, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan hiburan, tersimpan bahaya laten yang kerap kali luput dari perhatian. Sebuah penelitian terbaru mengungkap dampak buruk paparan konten kecantikan daring terhadap remaja putri, yang tidak hanya memicu rasa tidak percaya diri tetapi juga mendorong penggunaan produk yang tidak sesuai dengan kondisi kulit mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan komunikasi dari Universitas Radboud ini menyoroti bagaimana algoritma media sosial, terutama TikTok, menjebak remaja putri dalam pusaran konten kecantikan yang menampilkan standar ideal yang sulit dicapai. Temuan ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana lingkungan digital memengaruhi persepsi remaja putri tentang kecantikan, kesehatan kulit, dan harga diri.
Jerat Kecantikan: Ketika Remaja Putri ‘Dipaksa’ Mencari Kesempurnaan
Penelitian ini diawali dari keprihatinan seorang mahasiswa master bernama Ela van Duffelen, yang bekerja di sebuah jaringan toko kecantikan. Ela seringkali mendapat permintaan dari para ibu untuk menjelaskan kepada putri mereka yang berusia 12 tahun bahwa krim siang tertentu tidak cocok untuk kulit muda. Pengalaman ini menyadarkan Ela akan dampak buruk yang ditimbulkan oleh konten kecantikan daring pada remaja putri.
Dr. Serena Daalmans, salah satu peneliti utama, menjelaskan bahwa remaja putri seringkali terpapar konten kecantikan yang menampilkan produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan kulit mereka. Para remaja ini, terpengaruh oleh para influencer di media sosial, tergiur untuk mencoba produk-produk tersebut tanpa mempertimbangkan dampaknya. Hal ini menunjukkan bahwa konten kecantikan daring tidak hanya memengaruhi persepsi kecantikan tetapi juga mendorong perilaku konsumtif yang berpotensi merugikan kesehatan kulit remaja putri.
Dampak Psikologis: Antara Kekaguman dan Kekhawatiran
Penelitian ini melibatkan wawancara dengan 16 remaja putri berusia antara 13 dan 19 tahun. Hasilnya mengungkap bahwa meskipun para remaja putri menikmati menonton video kecantikan, mereka juga memiliki kekhawatiran terkait dampaknya. Mereka menyadari bahwa standar kecantikan yang ditampilkan dalam video tersebut tidak realistis dan sulit dicapai. Namun, mereka tetap merasa tertekan untuk berusaha memiliki wajah sempurna seperti yang mereka lihat di video-video tersebut.
Menariknya, para remaja putri ini cenderung percaya bahwa teman sebaya mereka lebih rentan terhadap dampak negatif dari konten kecantikan daring. Mereka khawatir teman-temannya akan merasa tidak percaya diri dan terdorong untuk meniru para influencer. Perasaan ini menunjukkan adanya kesadaran akan dampak psikologis dari konten kecantikan daring, meskipun mereka sendiri juga terpengaruh.
Algoritma Jahat: Perangkap yang Sulit Dihindari
Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah peran algoritma media sosial dalam menyebarkan konten kecantikan. Para remaja putri mengaku seringkali terpapar video kecantikan, bahkan ketika mereka tidak secara aktif mencari konten semacam itu. Algoritma media sosial, yang dirancang untuk menampilkan konten yang relevan dengan minat pengguna, secara tidak sadar menjebak remaja putri dalam pusaran konten kecantikan.
Dr. Daalmans menyimpulkan bahwa algoritma kecantikan sangat meresap sehingga sulit untuk menghindarinya. Ia juga menyoroti homogenitas citra wajah sempurna yang ditampilkan dalam video-video tersebut. Semua kreator terlihat sama, tanpa cacat atau noda, menciptakan standar yang sama sekali tidak realistis. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena remaja putri tidak dapat menghindari konten semacam ini dan merasa tertekan untuk berusaha memiliki wajah sempurna yang sama.
Temuan penelitian ini memberikan peringatan bagi orang tua, pendidik, dan pembuat kebijakan tentang dampak konten kecantikan daring pada remaja putri. Diperlukan upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran tentang standar kecantikan yang tidak realistis, mendorong penggunaan media sosial yang sehat, dan melindungi remaja putri dari dampak negatif konten kecantikan daring.