EventBogor.com – Kabar gembira datang dari dunia perfilman! Sebuah film yang sempat kurang bersinar di layar lebar, kini justru menjadi primadona di layanan streaming. Ya, ‘Grudge Match’, film reuni yang sangat dinantikan oleh para penggemar Robert De Niro dan Sylvester Stallone, kini meroket di tangga popularitas Paramount+.
Film yang dirilis pada tahun 2013 ini, yang mempertemukan kembali dua legenda perfilman ini, kini sedang menikmati masa kejayaannya di platform streaming. Sebuah bukti bahwa takdir sebuah film memang misterius. Apa yang dulu dianggap gagal di box office, kini menjadi tontonan favorit di kalangan penikmat film rumahan. Fenomena ini tentu saja menarik untuk diulas, mengingat bagaimana perubahan selera dan cara menonton film telah bergeser dalam satu dekade terakhir.
Pertemuan Dua Legenda: Sebuah Latar Belakang yang Kuat
‘Grudge Match’ bukan sekadar film biasa. Ia adalah pertemuan kembali dua aktor legendaris yang telah menghiasi layar lebar dengan peran-peran ikonik. Robert De Niro, dengan peran memukau sebagai Jake La Motta dalam ‘Raging Bull’ (1980) yang membuatnya meraih Oscar, dan Sylvester Stallone, yang tak lekang oleh waktu sebagai Rocky Balboa. Pertemuan mereka ini bukan kali pertama, sebelumnya keduanya pernah beradu akting dalam drama kriminal ‘Cop Land’ pada tahun 1997. Namun, ‘Grudge Match’ menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah pertempuran terakhir di atas ring tinju yang telah lama mereka tinggalkan.
Film ini disutradarai oleh Peter Segal, dengan naskah yang ditulis oleh Rodney Rothman dan Tim Kelleher. Kisahnya berkisah tentang dua petinju veteran yang memutuskan untuk kembali ke ring setelah puluhan tahun pensiun. Sebuah ide yang menarik, mengingat usia dan pengalaman yang telah mereka lalui. Film ini juga menghadirkan bintang-bintang ternama lainnya, seperti Kevin Hart, mendiang Alan Arkin, Kim Basinger, Jon Bernthal, dan LL Cool J. Kehadiran nama-nama besar ini semakin menambah daya tarik film tersebut.
Dari Kegagalan Box Office Menuju Puncak Streaming
Dulu, saat pertama kali dirilis, ‘Grudge Match’ tidak berhasil memenuhi ekspektasi di box office. Film ini hanya mampu menghasilkan $45 juta di seluruh dunia, sementara anggaran produksinya mencapai $40 juta. Ulasan dari para kritikus pun cenderung negatif, dengan banyak yang menilai cerita film ini klise dan kurang fokus. Rotten Tomatoes bahkan memberikan skor hanya 31%.
Namun, kini, 13 tahun kemudian, ‘Grudge Match’ justru menjadi salah satu film yang paling banyak ditonton di Paramount+. Sebuah ironi yang menarik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Pertama, perubahan cara menonton film. Layanan streaming telah mengubah lanskap hiburan, memberikan kemudahan akses bagi penonton di seluruh dunia. Kedua, nostalgia. Film ini membangkitkan nostalgia bagi para penggemar yang tumbuh besar dengan film-film De Niro dan Stallone. Ketiga, mungkin saja ekspektasi penonton yang berbeda. Penonton streaming cenderung lebih santai dalam memilih tontonan, mencari hiburan yang ringan dan menghibur.
Kritik yang Berubah?
Meskipun menerima kritik pedas saat perilisannya, ‘Grudge Match’ tetap memiliki daya tarik tersendiri. Beberapa kritikus menyebutnya sebagai komedi yang menghibur, meskipun dengan cerita yang klise. Andrew Barker dari Variety bahkan menyebutnya sebagai ‘Grumpy Old Men’ versi Rocky Balboa dan Jake LaMotta. Namun, kritik pedas juga datang dari Peter Travers dari Rolling Stone yang merasa sedih melihat dua aktor ikonik ini memerankan kembali karakter mereka.
Namun, di era streaming, pandangan penonton mungkin telah berubah. Penonton mungkin lebih fokus pada hiburan dan nostalgia daripada pada kualitas film yang sempurna. Dengan demikian, ‘Grudge Match’ menemukan audiens baru yang menghargai film ini apa adanya: sebuah tontonan ringan yang menghibur dengan kehadiran dua legenda perfilman.
Kesimpulannya, kesuksesan ‘Grudge Match’ di layanan streaming adalah bukti bahwa selera penonton terus berubah. Film ini mungkin tidak sempurna, namun ia memiliki daya tarik tersendiri yang membuatnya tetap relevan hingga saat ini. Sebuah pengingat bahwa kadang, sebuah film membutuhkan waktu untuk menemukan audiensnya.