EventBogor.com – Kabar buruk bagi warga Bogor Barat! Ruas jalan nasional yang menghubungkan Jasinga hingga Lewiliang kini bak roller coaster maut, dipenuhi lubang menganga yang mengancam keselamatan. Perbaikan jalan yang jadi tanggung jawab pemerintah pusat, hingga kini masih menjadi tanda tanya besar.
Bayangkan Anda melaju di jalanan, bukannya mulus, malah harus zig-zag menghindari lubang sedalam jurang. Itulah gambaran kondisi jalan nasional yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Bogor Barat. Bukan hanya menyusahkan, kerusakan ini sudah memakan korban.
Jalur Vital yang Berdarah-darah
Jalan ini bukan sekadar jalur biasa. Ia adalah nadi kehidupan yang menghubungkan pusat pemerintahan, perekonomian, dan fasilitas kesehatan. Kantor kecamatan, Polsek, Koramil, pasar-pasar ramai, hingga rumah sakit, semua bergantung pada kelancaran akses jalan ini.
Udin, seorang sopir angkot yang sehari-hari melintasi jalur ini, mengeluhkan tingginya risiko kecelakaan. “Sering ada kecelakaan, bahkan tergelincir! Apalagi kalau hujan, lubangnya makin banyak,” ujarnya. Senada dengan Udin, Dery, warga Jasinga, juga mengaku pernah tergelincir karena jalan rusak parah.
Kenapa Ini Jadi Masalah Mendesak?
Kita semua tahu, musim hujan adalah ujian terberat bagi kondisi jalan. Air meresap, menggerus aspal, memperparah kerusakan. Di saat seperti inilah, lubang-lubang maut itu semakin mengintai para pengendara. Risiko kecelakaan meningkat, nyawa menjadi taruhan.
Apalagi, bulan Ramadhan sudah di depan mata. Kebutuhan transportasi meningkat, aktivitas masyarakat semakin tinggi. Kerusakan jalan yang tak kunjung diperbaiki ini jelas menjadi hambatan besar, bahkan ancaman serius bagi keselamatan.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, dengan tegas menyebutkan bahwa perbaikan jalan nasional adalah tanggung jawab pemerintah pusat. Pelaksana teknisnya adalah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) atau Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) wilayah Jawa Barat.
Lantas, apa yang sudah dilakukan? Pertanyaan ini menggelayuti benak masyarakat. Meski keluhan terus bergema, perbaikan yang dinanti tak kunjung tiba. Apakah menunggu korban berjatuhan lebih banyak? Ataukah menunggu musim hujan berlalu, baru bertindak?
Apa Artinya Bagi Warga Bogor Barat?
Dampak kerusakan jalan ini sangat terasa. Mulai dari biaya transportasi yang membengkak akibat kerusakan kendaraan, risiko kecelakaan yang mengancam jiwa, hingga terhambatnya laju perekonomian. Bayangkan, pedagang kesulitan membawa barang dagangan, pasien sulit mencapai rumah sakit, dan aktivitas sehari-hari menjadi terganggu.
Lebih jauh, kerusakan jalan juga mencerminkan kualitas pelayanan publik. Ketika infrastruktur dasar seperti jalan dibiarkan rusak parah, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah bisa luntur.
Ini bukan sekadar soal lubang di jalan. Ini soal keselamatan, kesejahteraan, dan masa depan warga Bogor Barat.
Akhir Kata: Kapan Kita Bisa Bernapas Lega?
Melihat kondisi ini, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Sampai kapan warga Bogor Barat harus berjuang di jalanan rusak ini? Kapan pemerintah pusat akan bertindak nyata, bukan sekadar janji manis? Apakah kita harus menunggu tragedi terjadi, baru ada perbaikan?
Semoga saja, harapan untuk jalan yang layak segera terwujud. Agar roda kehidupan di Bogor Barat bisa terus berputar, tanpa harus mempertaruhkan nyawa di setiap perjalanan.