EventBogor.com – Malam di Olimpico berubah menjadi neraka bagi AS Roma. Bukannya pesta kemenangan, mereka justru harus menyaksikan Bologna menari di atas puing-puing harapan. Pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Europa berakhir dengan skor 4-3 (agregat 5-4) untuk kemenangan Bologna, sebuah drama tujuh gol yang akan dikenang sepanjang masa.
Awal Petaka di Kandang Sendiri
Bayangkan Anda adalah seorang Romanisti, duduk di tribun, siap merayakan kemenangan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Gawang AS Roma, yang dijaga Mile Svilar, sudah bergetar di menit ke-22. Jonathan Rowe, dengan sepakan roket dari luar kotak penalti, membungkam Olimpico. Stadion yang tadinya bergemuruh, mendadak hening.
Kebangkitan Singkat, Lalu Kembali Terpuruk
Roma mencoba bangkit. Evan Ndicka, dengan sundulan maut, menyamakan kedudukan. Semangat kembali membara, seolah api harapan kembali menyala. Tapi, Bologna tak mau menyerah. Federico Bernardeschi, dengan dingin, mengeksekusi penalti, kembali membuat Roma tertinggal. Babak pertama usai, Roma tertinggal 1-2. Sebuah pukulan telak yang membuat para pemain dan pendukung tertekan.
Bologna Menari, Roma Merana
Di babak kedua, mimpi buruk Roma semakin menjadi nyata. Santiago Castro memperlebar jarak menjadi 3-1. Situasi genting, nyaris tanpa harapan. Tapi, sepak bola memang penuh keajaiban. Donyell Malen, lewat titik putih, membuka kembali peluang. Momentum mulai berpihak pada Roma, dan Lorenzo Pellegrini, dengan gol penyeimbang di menit ke-80, seolah mengembalikan asa.
Extra Time: Detik-Detik yang Menegangkan
Pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Setiap detik terasa bagai neraka bagi Roma. Bologna, dengan determinasi tinggi, berhasil mencetak gol yang memastikan kemenangan mereka. Roma, yang bermain di kandang sendiri, harus mengakui keunggulan lawan.
Apa Artinya Bagi Roma?