Militer Ambil Alih, DPR Dibubarkan
Setelah kabar pelarian Rajoelina, militer langsung mengambil posisi dominan. Mereka mengumumkan akan membentuk pemerintahan transisi selama dua tahun ke depan, sambil mempersiapkan pemilihan umum baru dan perubahan konstitusi. Sejumlah institusi negara juga dibekukan, termasuk DPR yang sempat dibubarkan lewat dekret presiden sebelumnya.
Meski begitu, situasi di lapangan masih kacau. Banyak kota besar lumpuh karena aksi blokade dan bentrokan. Warga dilaporkan kekurangan bahan makanan, sementara layanan publik berhenti total. Media internasional melaporkan sedikitnya 22 orang tewas dan lebih dari seratus luka-luka akibat bentrokan dan kekerasan jalanan.
Suara Dunia dan Harapan Akan Perubahan
Krisis ini langsung menarik perhatian dunia. Beberapa negara Afrika dan organisasi internasional menyerukan agar semua pihak menahan diri dan kembali ke jalur demokrasi. Mereka menilai, generasi muda Madagaskar sedang menunjukkan kekuatan besar untuk menuntut perubahan — tapi juga diingatkan agar perlawanan tetap damai dan nggak dimanfaatkan oleh pihak lain yang haus kekuasaan.
Rencana pemerintahan transisi juga masih samar. Belum jelas siapa yang akan memimpin, bagaimana aturan baru dibuat, dan kapan pemilu bisa digelar. Tapi satu hal pasti: aksi Gen Z ini sudah mengubah arah politik Madagaskar secara besar-besaran. Banyak yang menyebutnya sebagai “revolusi generasi muda”.