EventBogor.com – Dunia sastra digemparkan dengan klaim kontroversial yang tertuang dalam buku terbaru berjudul “The Real Shakespeare”. Buku ini, yang ditulis oleh sejarawan feminis lulusan LSE, Irene Coslet, mengklaim bahwa sosok di balik nama besar William Shakespeare sebenarnya adalah seorang wanita Yahudi kulit hitam bernama Emilia Bassano.
Kabar ini tentu saja mengguncang fondasi sejarah sastra yang selama ini kita kenal. Selama berabad-abad, William Shakespeare dikenal sebagai salah satu penulis drama terbesar sepanjang masa, seorang pria kulit putih yang berasal dari Stratford-upon-Avon. Namun, buku Coslet menantang pandangan konvensional ini, menawarkan perspektif baru yang berpotensi mengubah cara kita memahami karya-karya Shakespeare dan konteks sosial budaya di mana karya-karya tersebut lahir.
Emilia Bassano: Sosok Misterius di Balik Tirai
Menurut buku “The Real Shakespeare”, Emilia Bassano adalah seorang penyair yang memiliki hubungan dekat dengan istana Tudor pada zamannya. Ia dikenal memiliki akses ke lingkungan intelektual dan artistik yang diperlukan untuk menghasilkan karya-karya yang luar biasa. Coslet berpendapat bahwa Bassano menulis drama-drama Shakespeare menggunakan nama pena tersebut, namun karyanya kemudian dicuri dan diklaim oleh William Shakespeare, seorang pria yang berasal dari latar belakang yang jauh berbeda.
Gagasan ini muncul berdasarkan beberapa argumen kuat. Pertama, Coslet menyoroti perbedaan latar belakang pendidikan dan sosial antara Shakespeare dan Emilia Bassano. Shakespeare berasal dari keluarga sederhana dengan pendidikan formal yang terbatas. Sementara itu, Bassano memiliki akses ke pendidikan yang lebih baik dan berada di lingkungan yang lebih mendukung perkembangan intelektualnya.
Kedua, Coslet menekankan pentingnya identitas Bassano sebagai seorang wanita Yahudi kulit hitam. Dalam pandangannya, identitas ini memberikan sudut pandang yang unik dan kaya dalam karya-karya Shakespeare. Bassano, dengan latar belakangnya yang beragam, mampu menciptakan karakter-karakter yang kompleks dan mengangkat isu-isu sosial yang relevan pada masanya.
Mengapa Klaim Ini Begitu Kontroversial?
Klaim bahwa Shakespeare adalah seorang wanita Yahudi kulit hitam tentu saja sangat kontroversial. Selama ini, kita terbiasa dengan narasi bahwa Shakespeare adalah seorang pria kulit putih, jenius sastra yang berasal dari Inggris. Perubahan narasi ini akan berdampak besar pada cara kita membaca dan memahami karya-karya Shakespeare.
Pertama, hal ini akan memaksa kita untuk mempertimbangkan kembali konteks sosial dan budaya di mana karya-karya tersebut ditulis. Jika benar bahwa Shakespeare adalah seorang wanita Yahudi kulit hitam, maka kita perlu melihat kembali bagaimana isu-isu ras, gender, dan identitas tercermin dalam karyanya. Kita mungkin akan menemukan lapisan makna baru yang sebelumnya tersembunyi.
Kedua, klaim ini juga akan memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi dan penggemar Shakespeare. Banyak yang akan menentang klaim ini, sementara yang lain akan melihatnya sebagai kesempatan untuk memperkaya pemahaman kita tentang Shakespeare dan karyanya.
Membongkar Mitos: Shakespeare dan Identitasnya
Klaim Coslet juga menyoroti pentingnya mempertanyakan narasi sejarah yang mapan. Seringkali, sejarah ditulis dari sudut pandang yang bias, dan identitas-identitas tertentu disembunyikan atau diabaikan. Dalam kasus Shakespeare, Coslet berpendapat bahwa gagasan tentang seorang jenius ‘kulit putih’ lebih disukai daripada pengakuan terhadap identitas Bassano sebagai penulis drama wanita berkulit hitam.
Hal ini juga mengingatkan kita bahwa kepenulisan Shakespeare tidak pernah dipertanyakan selama masa hidupnya. Bahkan, ia dipuji sebagai seorang jenius oleh banyak orang. Namun, spekulasi tentang siapa yang sebenarnya menulis karya-karya tersebut sudah ada sejak lama. Beberapa orang bahkan menduga bahwa penulis drama lain, seperti Christopher Marlowe, mungkin terlibat dalam penulisan beberapa karya Shakespeare.
Latar belakang Shakespeare yang sederhana dan kurangnya pendidikan formal menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ia bisa menghasilkan karya-karya sastra yang begitu brilian. Buku Coslet berusaha menjawab pertanyaan ini dengan menawarkan perspektif baru tentang identitas penulis drama yang sebenarnya.
Dalam kesimpulannya, buku “The Real Shakespeare” menawarkan perspektif baru yang menarik tentang identitas penulis drama terkenal, William Shakespeare. Klaim bahwa Shakespeare adalah seorang wanita Yahudi kulit hitam bernama Emilia Bassano tentu saja kontroversial, namun klaim ini juga mendorong kita untuk mempertanyakan narasi sejarah yang mapan dan mempertimbangkan kembali konteks sosial dan budaya di mana karya-karya Shakespeare lahir.