EventBogor.com – Kabar baik datang dari Jasinga! Di tengah teriknya isu krisis air, warga, pemerintah desa, dan KNPI Jasinga bahu-membahu membersihkan dan menormalisasi saluran irigasi Sendung. Sebuah upaya nyata untuk memastikan air tetap mengalir ke sawah-sawah, sumber kehidupan bagi para petani. Gotong royong ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap masa depan pertanian di wilayah tersebut.
Mengapa Ini Penting? Air, Tanah, dan Nasib Petani
Bayangkan, Anda seorang petani. Pagi-pagi buta, Anda sudah harus mengecek sawah, khawatir tanaman padi yang baru ditanam layu karena kekurangan air. Itulah realita yang dihadapi petani di Jasinga. Saluran irigasi Sendung, yang menjadi urat nadi pengairan sawah di dua kecamatan, mengalami pendangkalan. Akibatnya, air tak sampai ke lahan pertanian, mengancam panen dan mata pencaharian mereka. Normalisasi ini bukan hanya tentang membersihkan saluran, tapi juga tentang menyelamatkan harapan petani.
Menyelami Lebih Dalam: Lokasi, Peraturan, dan Harapan
Aksi gotong royong ini berpusat di Blok Cimi-cimi, Pekapuran, Kampung Panggilingan, Desa Setu, tepatnya di saluran induk Daerah Irigasi (D.I) Cidurian Sendung. Kegiatan ini bukan hanya inisiatif spontan, tetapi juga berlandaskan pada Peraturan Bupati Bogor yang mengatur tugas dan fungsi dinas terkait. Artinya, ada payung hukum yang kuat untuk memastikan keberlangsungan perbaikan infrastruktur irigasi.
Aliran irigasi Sendung sangat krusial. Airnya mengairi sawah di Desa Sipak, Pamagarsari, Setu, Cikopomayak, dan Bagoang di Kecamatan Jasinga, serta Desa Argapura di Kecamatan Cigudeg. Upaya normalisasi ini akan berdampak langsung pada ribuan hektar sawah dan kehidupan para petani. Ini bukan hanya soal angka, tetapi tentang ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
‘Banjir 2020’: Belajar dari Pengalaman, Merajut Asa
Kepala Desa Setu, Esa Asmarini, mengingatkan tentang banjir bandang 2020 yang merusak sistem irigasi. Pengalaman pahit itu menjadi pengingat bahwa infrastruktur irigasi harus terus dijaga. Gotong royong ini juga menjadi bentuk antisipasi terhadap potensi bencana di masa depan.
Keterbatasan Anggaran, Semangat Tak Padam
Ketua DPK KNPI Jasinga, Ama Dery, menyoroti keterbatasan anggaran untuk pembangunan irigasi. UPTD Irigasi Kelas A Wilayah V Jasinga hanya memiliki anggaran sekitar Rp3 miliar untuk enam kecamatan. Namun, semangat gotong royong membuktikan bahwa kepedulian dan kebersamaan bisa menjadi solusi. Ini adalah bukti nyata bahwa semangat gotong royong adalah kekuatan yang tak ternilai, bahkan di tengah keterbatasan.
Apa Artinya Bagi Kantong Anda? (Dan Petani)
Bagi petani, lancarnya irigasi berarti panen yang lebih baik, pendapatan yang meningkat, dan ketahanan pangan yang terjamin. Bagi kita semua, ini berarti pasokan beras yang stabil dan harga pangan yang lebih terjangkau. Gotong royong ini bukan hanya urusan petani, tetapi juga urusan kita semua. Ini adalah investasi untuk masa depan.
Kegiatan ini, meski bersifat sementara, memberikan harapan besar. Diharapkan, distribusi air akan kembali lancar, sawah kembali hijau, dan petani bisa tersenyum lebar menyambut panen. Semangat gotong royong di Jasinga adalah cerminan dari semangat kebersamaan yang patut kita teladani.