EventBogor.com – Gemuruh Ramadhan 1447 H akan segera tiba, namun ada sedikit ‘bumbu’ yang tak asing lagi: perbedaan tanggal awal puasa. Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada 18 Februari 2026, sementara pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) kemungkinan besar akan memulai puasa pada 19 Februari 2026. Sebuah pengingat akan keragaman, sekaligus tantangan bagi persatuan umat.
Mengapa Perbedaan Ini Penting?
Bayangkan Anda sedang merencanakan acara penting. Perbedaan tanggal awal puasa ini, ibarat dua versi undangan. Masing-masing punya kelebihan, tapi yang jelas, bisa menimbulkan kebingungan. Bagi sebagian umat, perbedaan ini bisa jadi sumber kegelisahan, terutama bagi mereka yang terbiasa menjalankan ibadah dalam ‘keseragaman’. Namun, di sisi lain, perbedaan ini adalah cermin dari kekayaan interpretasi dan metode keagamaan yang ada di Indonesia.
Muhammadiyah: Berpegang Teguh pada Hisab Modern
Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, memilih menggunakan metode hisab. Ini bukan sekadar tebak-tebakan, melainkan perhitungan astronomi yang cermat. Mereka merujuk pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menentukan tanggal berdasarkan posisi bulan secara ilmiah. Artinya, jika bulan ‘terlihat’ secara matematis pada tanggal tertentu, itulah awal bulan baru, terlepas dari di mana pun Anda berada di Bumi. Pendekatan ini menawarkan kepastian jadwal jauh hari sebelumnya, ibarat memesan tiket kereta api jauh-jauh hari agar tak kehabisan.
Pemerintah dan NU: Menjaga Tradisi Rukyatul Hilal
Sementara itu, pemerintah dan NU cenderung mengandalkan rukyatul hilal, yaitu pengamatan langsung hilal (bulan sabit pertama) setelah matahari terbenam. Ini adalah tradisi yang telah mengakar kuat di kalangan umat Islam Indonesia. Proses ini melibatkan banyak pihak, mulai dari para ahli falak hingga tokoh masyarakat di daerah. Tentu saja, metode ini juga memiliki tantangan, terutama karena cuaca dan kondisi geografis yang bisa memengaruhi hasil pengamatan. Namun, semangat gotong royong dan kebersamaan dalam menentukan awal puasa tetap menjadi nilai yang dijunjung tinggi.
Apa Artinya Bagi Umat?
Perbedaan ini, pada akhirnya, adalah ujian bagi kita semua. Ujian akan toleransi, akan kedewasaan beragama. Kita diajak untuk tidak terpaku pada perbedaan, melainkan merangkulnya sebagai bagian dari identitas keislaman kita yang kaya. Contoh sederhana: Jika Anda adalah seorang yang mengikuti Muhammadiyah, janganlah menghakimi mereka yang memilih menunggu keputusan pemerintah. Sebaliknya, jika Anda menunggu keputusan pemerintah, hormati juga keputusan Muhammadiyah. Bukankah esensi puasa adalah tentang pengendalian diri, termasuk mengendalikan emosi dan prasangka?
Saling Menghormati, Kunci Persatuan
Ingatlah, tujuan kita sama: menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan meraih keberkahan di bulan Ramadhan. Perbedaan tanggal hanyalah detail teknis. Yang paling penting adalah bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut. Saling menghormati, saling mendoakan, dan tetap menjaga persatuan adalah kunci untuk menciptakan suasana Ramadhan yang damai dan penuh makna bagi seluruh umat Islam di Indonesia.
Refleksi: Bisakah Kita Merayakan Perbedaan?
Mungkin, ini saat yang tepat untuk merenung: Bisakah kita merayakan perbedaan ini sebagai kekayaan, bukan sebagai perpecahan? Mampukah kita melihat perbedaan sebagai kesempatan untuk belajar dan memperkaya wawasan keagamaan kita? Semoga Ramadhan 2026 menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, sekaligus memperdalam pemahaman kita tentang Islam yang rahmatan lil alamin.