EventBogor.com – Gemuruh Ramadhan 2026 segera tiba, dan Masjid Istiqlal, sebagai jantung spiritual umat Islam di Indonesia, kembali menghadirkan sesuatu yang istimewa. Bukan hanya sekadar perayaan ibadah, kali ini Istiqlal mengajak kita semua untuk merenung: bagaimana caranya menghadirkan Ramadhan yang tak hanya penuh berkah, tapi juga ramah lingkungan. Tema yang diusung pun sangat menarik: “Ramadhan Hijau, Ramadhan Bersama”.
Kenapa ‘Hijau’ Penting di Tengah Hiruk Pikuk Ramadhan?
Bayangkan Anda baru saja selesai menunaikan salat tarawih. Udara malam yang tadinya sejuk, kini terasa pengap karena ramainya jamaah dan lalu lalang kendaraan. Sampah berserakan, botol plastik berserakan, dan polusi udara terasa begitu nyata. Itulah realita yang seringkali kita temui di tengah gegap gempita Ramadhan. Masjid Istiqlal, dengan kearifannya, mengajak kita untuk berbenah. “Ramadhan Hijau” bukan sekadar hiasan kata, melainkan ajakan mendalam untuk merefleksikan hubungan kita dengan alam. Di tengah krisis iklim yang semakin nyata, tema ini terasa sangat relevan dan mendesak.
Eko-Teologi: Mengapa Agama dan Lingkungan Harus Bergandengan Tangan?
Imam Besar Masjid Istiqlal, Bapak Nasaruddin Umar, menjelaskan bahwa tema “Ramadhan Hijau” berangkat dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi lingkungan saat ini. Bencana alam yang silih berganti, dari banjir hingga kekeringan, adalah pengingat keras bahwa kita perlu memperbaiki cara kita memperlakukan bumi. Ini bukan hanya masalah teknis, tapi juga masalah spiritual. Konsep “eko-teologi” menjadi fondasi utama. Eko-teologi, secara sederhana, adalah pandangan yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran lingkungan. Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, adalah juga Sang Pencipta alam semesta. Maka, merawat alam adalah bagian dari ibadah kita.