Latar belakangnya jelas: selama ini, PKL di Tanah Abang tak hanya memenuhi trotoar, tetapi juga kerap kali mengokupasi bahu jalan. Akibatnya, kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari. Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin, menyadari betul hal ini, terlebih menjelang Ramadan dan Idul Fitri, ketika Pasar Tanah Abang menjadi magnet bagi masyarakat yang berbelanja.
Keputusan ini krusial karena beberapa alasan. Pertama, untuk memastikan kelancaran arus lalu lintas. Kedua, demi kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki. Ketiga, untuk menjaga citra Tanah Abang sebagai pusat perbelanjaan yang tertib dan teratur. Ini adalah upaya untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik bagi semua pihak, termasuk pedagang dan pembeli.