Bayangkan Anda adalah seorang ayah. Setiap pagi, Anda berangkat kerja, berharap bisa pulang membawa rezeki untuk keluarga. Namun, tiba-tiba, pekerjaan itu hilang, sumber penghasilan utama lenyap. Inilah realita pahit yang tengah dihadapi ratusan buruh tambang di Cigudeg. Penutupan tambang, kebijakan yang diambil pemerintah, telah menciptakan gelombang kekhawatiran. Mereka kini berjuang mendapatkan hak mereka, sementara kebutuhan hidup tak pernah berhenti.
Sejak penutupan tambang, sebanyak 395 buruh tambang dilaporkan terdampak. Mereka yang sebelumnya menggantungkan hidup pada kerasnya tambang, kini harus berjuang mencari nafkah di tengah ketidakpastian. Proses pendataan yang dianggap tidak transparan, diduga terjadi tebang pilih dalam penyaluran bantuan. Kekecewaan memuncak, harapan mulai meredup.