EventBogor.com – Kabar tak sedap menerpa Kabupaten Bogor. Para aktivis pemuda menyuarakan keprihatinan mendalam terkait penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang dinilai lemah, serta peningkatan kasus narkoba di kalangan remaja yang seolah tak mendapat perhatian serius. Sebuah panggilan darurat yang menuntut aksi nyata dari pemerintah daerah.
Bayangkan, Anda berjalan di jalanan Bogor. Tiba-tiba, mata Anda menangkap sosok lansia renta yang terlantar, anak-anak jalanan yang merindukan kasih sayang, atau bahkan remaja yang terjerat narkoba. Miris, bukan? Itulah realita yang dihadapi sebagian warga Bogor. Menurut laporan dari aktivis muda, hingga pertengahan tahun 2025, belum ada layanan terpadu yang memadai untuk menangani masalah kompleks ini.
PMKS: Bukan Sekadar Bantuan Beras
Nurdin Ruhendi, Ketua Lembaga Kajian Strategis Pemuda Bogor Barat, dengan tegas menyuarakan keprihatinannya. “PMKS itu bukan hanya soal bantuan beras atau sembako,” ujarnya. “Ini soal martabat manusia.” Ironisnya, banyak dari mereka yang luput dari perhatian, dibiarkan berjuang sendiri menghadapi kerasnya kehidupan. Program-program yang ada, dinilai lebih fokus pada penyaluran bantuan sosial sesaat, tanpa menyentuh akar permasalahan.
Coba kita renungkan sejenak. Jika bantuan hanya bersifat sementara, lalu bagaimana nasib mereka di masa depan? Apakah mereka akan terus bergantung pada bantuan tanpa pernah merasakan kemandirian? Ini bukan hanya soal anggaran, tetapi juga tentang visi dan komitmen untuk membangun masyarakat yang lebih berkeadilan.
Narkoba: Ancaman Nyata di Depan Mata
Yang tak kalah memilukan adalah meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Kawasan industri dan permukiman padat penduduk menjadi wilayah yang paling rentan. Namun, ironisnya, fasilitas rehabilitasi remaja nyaris tak ada, ditambah lagi dengan minimnya edukasi publik tentang bahaya narkoba. Ini seperti membiarkan api membakar tanpa upaya pemadaman yang serius.
Anak-anak muda adalah aset berharga bagi masa depan Bogor. Jika mereka terjerat narkoba, siapa yang akan melanjutkan estafet pembangunan? Siapa yang akan menjadi pemimpin, penggerak, dan inovator? Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Apa Artinya Bagi Warga Bogor?
Kondisi ini tentu saja berdampak langsung pada kehidupan warga Bogor. Tingginya angka PMKS menciptakan masalah sosial yang kompleks, mulai dari kriminalitas hingga masalah kesehatan. Sementara itu, penyalahgunaan narkoba merusak generasi muda, merenggut masa depan mereka, dan merusak tatanan sosial. Kita semua, secara tidak langsung, terkena imbasnya.
Aktivis muda mendesak Bupati Bogor, Rudy Susmanto, untuk segera turun tangan. Mereka meminta anggaran khusus dan kebijakan yang serius, bukan sekadar formalitas laporan. Mereka juga mendorong pembentukan Unit Layanan Rehabilitasi Sosial Terpadu, sinergi antara berbagai dinas dan organisasi. Ini adalah langkah konkret yang sangat dibutuhkan.
Memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) pada 26 Juni, adalah momentum yang tepat untuk mengambil langkah nyata. Perubahan pendekatan, dari bantuan ke pemberdayaan, dari reaktif ke preventif, adalah kunci untuk menciptakan Bogor yang lebih baik.
Lalu, sebagai warga Bogor, apa yang bisa kita lakukan? Apakah kita akan terus berdiam diri, atau ikut bergerak bersama untuk menciptakan perubahan? Pilihan ada di tangan kita.