EventBogor.com, Cibinong – Bayangkan, Anda terbaring sakit, membutuhkan perawatan, namun bukannya mendapat pertolongan, Anda malah diminta menyerahkan STNK motor sebagai jaminan. Mirisnya, hal ini bukan fiksi belaka. Seorang advokat muda, Nurdin Ruhendi, mengungkap praktik kontroversial di beberapa fasilitas kesehatan di Bogor yang meminta pasien tak mampu menjaminkan STNK demi mendapatkan layanan medis. Sebuah ironi di tengah janji layanan kesehatan yang seharusnya mudah diakses.
Kisah Nyata di Balik STNK yang Tergadai
Nurdin Ruhendi, dengan suara lantang, menyuarakan keprihatinannya atas praktik yang terasa begitu kejam. Dalam pernyataannya, ia mengungkap realita pahit di mana STNK menjadi ‘jaminan’ bagi mereka yang tak mampu membayar biaya pengobatan. Ini bukan sekadar cerita, melainkan potret buram bagaimana akses kesehatan, yang seharusnya menjadi hak, justru menjadi barang yang diperjualbelikan.
Ia tak tinggal diam. Nurdin meminta perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dan Bupati Bogor Rudy Susmanto. Tujuannya jelas: menghentikan praktik tak manusiawi ini. Ia menekankan, fasilitas kesehatan adalah kewajiban negara, bukan ladang bisnis yang mengorbankan nyawa.
Kenapa Ini Penting Sekarang? Membaca Tanda-Tanda Zaman
Kasus ini muncul di saat yang krusial. Di mana isu kesehatan, terutama bagi masyarakat tidak mampu, seharusnya menjadi prioritas utama. Banyak warga belum memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau termasuk dalam kategori rentan. Praktik meminta jaminan STNK ini adalah tamparan keras bagi janji-janji layanan kesehatan yang mudah diakses dan gratis. Ini adalah pengingat bahwa di balik angka-angka statistik, ada manusia yang berjuang untuk bertahan hidup.
Apa Artinya Bagi Kantong dan Nyawa Anda?
Dampak langsungnya jelas terasa. Bagi pasien yang tak mampu, STNK bisa jadi satu-satunya aset berharga. Kehilangan STNK berarti kehilangan hak atas transportasi, dan lebih parah lagi, berpotensi kehilangan nyawa karena tak mampu mengakses pengobatan. Ini seperti permainan ‘jika’ yang kejam: jika tak punya uang, maka… nyawa dipertaruhkan. Jika tak punya STNK, maka… tak ada perawatan. Sungguh ironis.