Jembatan yang menjadi urat nadi penghubung antar desa ini mengalami kerusakan secara bertahap. Menurut keterangan Bapak Alawi, kerusakan dimulai sekitar dua minggu sebelum ambruk total. Arus sungai yang deras menggerogoti struktur bawah jembatan, bahkan menghilangkan tiang penyangga. Kondisi ini diperparah oleh hujan yang tak kunjung berhenti. Pada Rabu, 15 April 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, jembatan akhirnya menyerah. Ambruk total, meninggalkan puing-puing yang memilukan.
Apa Artinya Bagi Warga?
Jembatan yang ambruk ini bukan hanya sekadar bangunan. Ia adalah simbol penghubung, akses vital bagi warga untuk beraktivitas. Dengan terputusnya jembatan, aktivitas ekonomi, sosial, dan pendidikan warga terganggu. Anak-anak kesulitan pergi ke sekolah, warga kesulitan mencari nafkah, dan roda kehidupan seolah terhenti. Jembatan dengan panjang sekitar 32 meter, lebar tiga meter, dan tinggi lebih dari empat meter ini kini tak bisa lagi dilalui. Baik kendaraan roda dua maupun pejalan kaki, semuanya terpaksa mencari jalur alternatif.