Sebagaimana disebutkan dalam kitab klasik, «áñà áñàç áÙñ Ùàäãàá ãÑàåã àÙñàæ àÙãàéàÙãàÙæ» yang artinya ulama dari kalangan Syafi’iyah sepakat bahwa waktu akhir salat Id adalah saat matahari tergelincir.
Tata cara salat Idul Fitri terdiri dari dua rakaat dan dilakukan secara berjamaah di lapangan, masjid, atau tempat terbuka lainnya.
Pada rakaat pertama, imam membaca takbir sebanyak tujuh kali (selain takbiratul ihram), kemudian dilanjutkan dengan membaca Surah Al-Fatihah dan Surah Al-A’la.
Sementara di rakaat kedua, takbir dibaca sebanyak lima kali sebelum membaca Al-Fatihah dan salah satu surah pendek, seperti Surah Al-Ghasyiyah.
Khutbah Id menjadi bagian yang menyusul setelah salat, meskipun secara hukum hukumnya tetap sah meski tanpa khutbah, namun sangat dianjurkan untuk mengikutinya.
Niat salat Idul Fitri dilafalkan dalam hati sebelum takbiratul ihram, dengan bunyi: «ÙãàÙæ ãÑàåã àÙãàéàÙãàÙæ àÙñàåã àÙãàÙæàÙãàÙæ àÙãàÙæàÙãàÙæ àÙãàÙæàÙãàÙæ àÙãàÙæàÙãàÙæ àÙãàÙæàÙãàÙæ àÙãàÙæàÙãàÙæ».
Artinya: Aku berniat salat Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.
Bagi imam, lafal niatnya sedikit berbeda, yakni dengan mengganti «ãÑàåã» menjadi «ãÑàåã».
Meskipun ada perbedaan waktu, semangat silaturahmi dan persatuan harus tetap dijaga, karena esensi Lebaran bukan hanya pada kapan kita salat, tapi bagaimana kita kembali suci dan mempererat hubungan sesama.
Bagi yang merayakan lebih awal atau kemudian, yang terpenting adalah niat tulus dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah.