Home News SPKU RDF Rorotan ‘Mati’ Sejak 10 Januari? DLH DKI Tegaskan: Cuma Kalibrasi!
News

SPKU RDF Rorotan ‘Mati’ Sejak 10 Januari? DLH DKI Tegaskan: Cuma Kalibrasi!

Share
Share

EventBogor.com – Kabar beredar tentang ‘matinya’ Sistem Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di sekitar RDF Rorotan, Jakarta Utara, sejak 10 Januari 2026, sempat bikin heboh. Masyarakat khawatir pencemaran udara tak terpantau. Namun, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta buru-buru menenangkan. Mereka menegaskan, tidak ada pemadaman. Yang ada, justru proses penting: kalibrasi. Apa sih sebenarnya yang terjadi?

Kenapa Ini Penting? Udara Bersih Taruhannya!

Bayangkan Anda tinggal di dekat pabrik. Setiap hari menghirup udara, tapi tak tahu persis kualitasnya. Itulah yang terjadi jika SPKU benar-benar mati. Informasi tak akurat, kesehatan terancam. Apalagi, isu lingkungan saat ini menjadi perhatian utama. Masyarakat berhak tahu apa yang mereka hirup.

Kalibrasi Itu Apa, Sih?

Kepala DLH DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan: kalibrasi adalah proses ‘pengecekan kesehatan’ untuk memastikan sensor SPKU bekerja akurat. Ibaratnya, seperti kita cek kesehatan rutin ke dokter. Sensor perlu dicek, apakah pembacaannya sesuai dengan kondisi sebenarnya. Tujuannya jelas, agar data yang disajikan valid dan bisa dipercaya.

Proses kalibrasi ini, menurut Asep, lazim dilakukan, terutama pada teknologi baru seperti yang digunakan di RDF Rorotan. Tujuannya, mengidentifikasi potensi ‘bias’ atau kesalahan pembacaan akibat kondisi lingkungan sekitar. Maklum, lokasi Rorotan yang dekat pantai, bisa memengaruhi hasil pengukuran.

Apa Artinya Bagi Kantong Anda (dan Paru-Paru Anda)?

Dampaknya langsung terasa pada kepercayaan publik. Jika data yang disajikan tidak akurat, masyarakat akan ragu. Keraguan ini bisa memicu spekulasi dan bahkan kepanikan. Padahal, tujuan utama SPKU adalah memberikan informasi yang transparan dan akurat.

BACA JUGA :  Bogor Gempur Kemiskinan! Bupati Rudy Susmanto Genjot Koperasi Desa, Apa Rahasianya?

Saat ini, DLH telah memasang 8 unit SPKU dilengkapi sensor kebauan ambien. Sensor-sensor ini memantau berbagai parameter, seperti amoniak dan hidrogen sulfida. Hebatnya, sistem ini diklaim yang pertama di Indonesia. Proses kalibrasi juga melibatkan pengambilan sampel kebauan ambien di laboratorium terakreditasi. Data laboratorium dibandingkan dengan data SPKU untuk memastikan semuanya berjalan sesuai standar. Tujuannya? Agar data yang ditampilkan benar-benar mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga kita semua bisa bernapas lega.

Jadi, Apa Kesimpulannya?

Kabar ‘SPKU mati’ ternyata hanya salah paham. DLH DKI sedang berupaya memastikan kualitas udara di Rorotan terpantau secara akurat. Proses kalibrasi ini penting, demi transparansi dan kesehatan kita. Pertanyaannya, apakah kita sudah cukup peduli dengan kualitas udara di sekitar kita? Mari kita awasi bersama!

Share

Explore more

Lifestyle

Contoh Susunan Acara dan Teks MC Halal Bihalal Sekolah 2026 yang Khidmat dan Menarik

Jujur, momen Lebaran di sekolah rasanya nggak lengkap kalau nggak ada halal bihalal. Ini bukan cuma soal saling maaf-maafan, tapi juga ajang mempererat...

Weekly Newsletter

Excepteur sint occaecat cupidatat non proident

    Related Articles
    News

    Penebaran 10 Ribu Benih Ikan di Sungai Cikalong, Langkah Nyata Pemulihan Ekosistem Pasca-Pencemaran

    Hallobogor.com, JASINGA – Suasana di sekitar aliran sungai yang membelah Desa Kalong...

    News

    Dua Benda Diduga Granat Ditemukan di Kebun Cigudeg, Warga Heboh

    Hallobogor.com, CIGUDEG – Warga Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, sontak dibuat geger setelah...

    News

    Dua Benda Diduga Granat Ditemukan di Kebun Cigudeg Bogor, Warga Heboh

    Hallobogor.com, CIGUDEG – Warga Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, dibuat heboh setelah dua...

    News

    Danantara Pacu Integrasi Digital BUMN untuk Tekan Biaya dan Dorong Inovasi Nasional

    HALLOBOGOR.COM – Transformasi digital di tubuh BUMN kini berada di ujung penentuan:...